PKS, Gerindra, dan PAN Akan Bentuk Koalisi Umat, PDIP: Malah Memperkuat Jokowi

Metrobatam, Jakarta – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais bertemu dengan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI)Habib Rizieq Shihab di Makkah, Arab Saudi ketika sedang melaksanakan ibadah umrah. Ketiganya, sepakat membentuk koalisi umat dalam menyongsong Pilpres 2019.

Ketua DPP PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno mengatakan, pihaknya tak mengambil pusing terkait pembentukan koalisi tersebut. Menurutnya, itu malah akan memperkuat posisi Joko Widodo (Jokowi) di mata masyarakat. Dengan begitu, pihaknya meyakini ketenaran dan nilai elektabilitas Jokowi akan semakin meroket, sehingga untuk merebut kemenangan diprediksi akan semakin mudah.

“Sampai saat ini, kami berkeyakinan munculnya koalisi tersebut justru akan memperkuat posisi Jokowi,” kata Hendrawan saat dihubungi, Selasa (5/6).

Menurutnya, dalam iklim demokrasi sudah sewajarnya bila ada persaingan dalam ajang kontestasi politik. Sebab, kata dia, itu menandakan adanya sebuah persaingan yang sehat dalam mensuskseskan sebuah pesta demokrasi lima tahunan. Pihaknya hanya tinggal menunggu proses kelanjutan dari pertemuan itu apakah benar terealisasi atau tidak.

Bacaan Lainnya

“Semua bentuk silaturahim harus kita sambut dengan baik. Wacana maupun rencana untuk membangun suatu kerja sama, juga pantas kita terima sebagai kabar gembira. Tugas kita sekarang tinggal sabar, menunggu proses lanjutannya,” ujarnya.

Sebagai pengusung calon presiden petahana, kata dia, pihaknya tentu sedang mengamati pergerakan dari para lawan-lawan politiknya. Namun, hingga kini belum ada yang terlihat tokoh yang berani menunjukkan bahwa dia akan bertarung dengan Jokowi di Pilpres 2019.

“Sekarang tinggal siapa paslon yang akan diusung. Sebaga incumbent kami sabar saja. Kami memiliki kelebihan untuk sabar menanti,” pungkasnya.

Sementara Partai Nasional Demokrat (NasDem) menganggap pembentukan Koalisi Umat hasil pertemuan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais dengan Imam Besar Front Pembela Islam Habieb Rizieq Shihab, tidak adak sesuatu yang luar biasa.

Sekjen Partai NasDem Johny G. Plate memandang rencana itu sebagai suatu yang biasa saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sehingga, pihaknya sama sekali tidak melihat itu sebagai suatu ancaman kepada Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019.

“Biasa saja, tidak ada hal luar biasa,” kata Johny saat dihubungi, Selasa (5/6/2018).

Menurutnya, rencana itu hanya sebuah permainan opini untuk membentuk persepsi pulik di masyarakat. Sebab, hingga kini sudah jelas tak ada tokoh yang berani mendeklarasikan diri maju menjadi pesaing Jokowi.

“Biasa saja, tidak ada hal yang baru,” tegasnya.

Saat ini, lanjut dia, pihaknya tetap merapatkan barisan dengan jajaran partai pendukung Jokowi agar kekuatannya kian kuat jelang pendaftaran calon presiden pada Agustus 2018 nanti. Sehingga, tak ada lagi keraguan kalau mantan Gubernur DKI Jakarta itu kian mendapat hati di masyarakat.

Sedangkan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid mempertanyakan umat yang disebut dalam pertemuan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Majelis Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais dengan imam besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab di Mekkah, Arab Saudi.

“Kalau agenda pertemuannya adalah untuk umat. Agenda umat seperti apa? Umatnya siapa?” kata Alissa di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (4/6).

Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu mengatakan tak menjadi masalah apabila umat yang dimaksud telah menyepakati hal itu. Namun Alissa menduga umat yang dimaksud hanya dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

“Apakah umat ini benar-benar artinya semua orang menyepakati? Kalau tidak ya sudah. Ini masalah kontestasi politik nanti diselesaikan di kancah politik,” kata Alissa.

Kendati demikian, Alissa tak mempermasalahkan pertemuan yang dilakukan antara Prabowo, Amien Rais, dan Rizieq usai melaksanakan umrah di Mekkah.

“Semua orang berhak bertemu, berasosiasi, berkumpul gitu. Jadi pertemuan itu hak warga negara dong. Mau bertemu, berasosiasi itu enggak apa-apa. Boleh saja,” katanya. (mb/okezone/cnn indonesia)

Pos terkait