Belum Memiliki Tower BTS di Kampungnya, Seorang Pemuda di Agam Buat Alat Penguat Signal Internet

METROBATAM.COM. AGAM- Saat sebagian penduduk Indonesia dapat menikmati jaringan internet dan Wifi dengan baik, namun masih ada juga wilayah yang belum tersentuh oleh jaringan seluler, seperti Kecamatan Palupuh, kabupaten Agam, Sumatera Barat bukan hanya perkara rasio, tetapi juga soal perbedaan akses.

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) jumlah pengguna internet di Indonesia sebanyak 143,26 juta atau sekira  55% dari populasi. Artinya, masih terdapat 45% sisanya yakni sekira 117 juta masyarakat yang masih belum tersentuh internet.

Bacaan Lainnya

Potret tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat pekerjaan rumah  pembangunan infrastruktur telekomunikasi, agar internet dapat dinikmati di tiap jengkal wilayah  Indonesia.

Sayangnya, pemerintah pun belum mengetahui pastinya lokasi 117 juta penduduk yang belum tersambung ke dunia maya ini. Apa yang ada, hanya peta daerah-daerah terpencil yang masuk kategori tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Baru-baru ini di Jorong Mudik Palupuh, kenagarian Koto Rantang, kecamatan Palupuh, Agam, Sumbar salah seorang pemuda, bernama Hendri.

Lantaran jaringan internet di Kampungnya tidak bisa diakses karena tidak memiliki Tower BTS  (Base Transceiver Station) dan Radio Base Station (RBS), salah satu bentuk infrastruktur telekomunikasi yang berperan penting dalam mewujudkan komunikasi nirkabel antara jaringan operator dengan perangkat komunikasi.

Hendri, dengan semangat yang tinggi berusaha menemukan alat penguat signal internet mengunakan barang-barang bekas seperti Kuali bekas, Tutup dandang dan Kawat bekas, ide ini muncul karena di daerah Jorong Mudik, Palupuh, kenagarian Koto Rantang, Agam yang susah dapat signal internet, hingga memuncul ide kreatif ini.

Hal ini di benarkan oleh Parta, Wali Jorong Mudiak Palupuh, mengatakan, tentang adanya penemuan pemuda kreatif dan inovatif, yang membuat alat penguat signal internet dari barang bekas yang bahan-bahannya dari kuali bekas, tutup dandang, dan kawat.

“Karena di daerah kami jaringan internet tidak terjangkau, sedangkan masyarakat sangat membutuhkan, apalagi siswa siswi kami, dalam mengikuti proses belajar mengajar daring,” ujar Parta.

“Kita sudah lama mengajukan proposal tentang pendirian Tower di Mudik Palupuh, ke beberapa perusahaan telekomunikasi, namun hingga saat ini belam mendapatkan tanggapan, bahkan hingga ke kabupaten Agam,” ungkap Parta.

“Kami berharap dengan adanya hasil teknologi anak Nagari ini, pemerintah kabupaten Agam dan Provinsi bisa cepat tanggap dalam pendirian Tower telekomunikasi di daerah kami,” tutup Parta, Jorong Mudiak Palupuh. (Basa)

Pos terkait