BPK Temukan 166 Kontrak Proyek Listrik Era SBY Terhenti

Metrobatam.com, Jakarta – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas penyelesaian proyek infrastruktur ketenagalistrikan. Menurut audit BPK tersebut, sebanyak 166 kontrak yang menjadi penyokong utama proyek listrik Fast Track Program Tahap I sebesar 10 ribu megawatt terhenti.

Anggota IV BPK, Rizal Djalil, menyatakan ada 166 perusahaan dalam melaksanakan kewajibannya ternyata bermasalah. “Besok kami buka semua (dalam rapat koordinasi). Bahkan nama perusahaannya juga ada,” katanya di Gedung BPK, Jakarta Selatan, kemarin.

Berdasarkan audit BPK tersebut, menurut Rizal, perkembangan proyek listrik pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu juga baru mencapai 79,19 persen atau 7.919 megawatt. Rizal pun mengatakan, banyak hal yang harus diperbaiki dalam program listrik era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.

Untuk menindaklanjuti permasalahan itu, kata Rizal, BPK akan melakukan rapat koordinasi dengan berbagai pihak. Dalam rapat itu, BPK akan mengundang Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Direktur Utama PLN Sofyan Basir, dan lain-lain.

Bacaan Lainnya

Dari pertemuan itu, Rizal berharap, akan muncul rekomendasi-rekomendasi dari pihak-pihak yang terlibat dalam proyek listrik 35 ribu megawatt itu. “Besok, BPK juga akan menyampaikan temuan-temuan kami. Tidak mungkin hari ini karena saya sudah berjanji kepada Pak Rizal Ramli. Besok kita buka semua,” katanya.

Namun, menurut Rizal, PLN yang membangun proyek tersebut juga sudah melakukan berbagai perbaikan, termasuk dalam proses tender. “Kalau ada yang mau jadi kontraktor, silakan, asal punya uang di bank berapa, teknologi yang mereka punya apa, sumber daya manusianya bagaimana. Jadi, tidak bisa perusahaan abal-abal,” ujarnya.

Rizal pun menilai, PLN perlu memberi kesempatan kepada perusahaan-perusahaan domestik jika perusahaan tersebut memang kredibel dan akuntabel dalam menggarap proyek listrik 35 ribu megawatt. “Karena yang mendapatkan multiplier effect-nya kan kita juga,” kata Rizal.(mb/tempo)

Pos terkait