Metrobatam, Serang – Sarbini (52) yang sehari hari bekerja sebagai buruh serabutan tak mampu membangun rumah layak untuk ditempati keluarganya. Apalagi, untuk menyekolahkan seluruh anak-anaknya. Sehingga dirinya hanya bisa berharap ada yang menolongnya.
“Pengen punya rumah bagus, kalau kaya gini nyaman enggak nyaman. Hujan bocor, kalau malem gelap susah mau belajarnya,” kata Siti Mutiara putri pasangan Sarbini dan Tikah, Selasa (1/8).
Karena rumah tak ada toilet, Sarbini dengan keluarga memanfaatkan air sungai Ciujung yang letaknya tak jauh dari rumahnya untuk keperluan sehari-hari.
“Kalau mandi, cuci piring, cuci baju di sungai. Kalau buat minum beli air isi ulang, ya kalau enggak punya minum terpaksa pakai air sungai,” kata Sahril Abror (18) anak keempat Sarbini.
Meskipun Sahril dan Tiara sudah dewasa, keinginannya untuk bersekolah sangatlah tinggi. Bahkan untuk membantu keluarganya, Sahril bekerja disebuah kantin perusahaan yang tak jauh dari rumahnya.
“Ikut sekolah paket juga enggak apa-apa, yang penting bisa sekolah. Ini kerja juga enggak pakai ijazah,” kata Sahril.
Sementara itu, Sarbini mengaku sempat mendapatkan bantuan dan pengecekan dari pemerintah. Tapi semenjak empat bulan lalu tidak ada lagi bantuan.
“Belum ada (bantuan) lagi. Kemarin-kemarin banyak yang minta KTP sama KK. Pernah juga tuh ngajuin bedah rumah tapi belum sampai sekarang,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhannya, bapak 13 orang anak itu menggarap lahan milik perusahan. Sehingga penghasilannya tak menentu.
“Paling kalau ada tetangga yang ngasih uang dibeliin beras sekarung, paling banyak dari tetangga ajah,” pungkasnya.(mb/okezone)














