Metrobatam, Banjarnegara – Bencana kekeringan terus melanda Banjarnegara, Jawa tengah. Sedikitnya 18 ribu jiwa di 29 desa mengalami krisis air bersih sehingga warga hanya mengandalkan droping air. Pemerintah pun menetetapkan siaga bencana kekeringan selama 90 hari.
Untuk mendapatkan air bersih dari tangki, setiap hari ratusan warga rela mengantre karena sumber mata air ataupun sumur sudah mengering akibat kemarau melanda dalam 3 bulan terakhir. Selain mengandalkan droping, sebagian warga harus mengambil air di sumur resapan sungai yang kotor atau berjalan kaki hingga 2 kilometer di dasar tebing.
“Untuk mendapatkan air bersih disini sangat susah, kami harus jalan hingga 2 kilometer. Satu-satunya harapan kami ya dengan mengharap droping ini dari pemerintah, semua mata air kering dan hanya sungai yang masih teraliri sedikit air,” ujar Nakim, warga Jalatunda kepada Okezone, Selasa (19/9).
Akibat kekeringan dan krisis air bersih ini, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menetapkan siaga darurat kekeringan hingga 90 hari. Sementara 4 tangki BPBD terus melakukan droping setiap hari dengan membawa 50 ribu liter air bersih. Adapun keterbatasan armada menjadi satu kendala droping air.
“Kami akan melayani semua permintaan droping, semua pasti merata. Namun, jadwalnya yang kami bedakan dan harus bergiliran. Ini karena keterbatasan jumlah armada kami untuk melayani semua droping,” ujar Arif Rachman, Ketua Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara.
Musim kemarau kali ini menjadikan krisis air bersih yang dirasakan warga paling parah sejak 5 tahun terakhir. Warga berharap, pemerintah bisa terus memberikan droping atau sumbangan air bersih karena menjadi kebutuhan utama warga makan dan minum setiap hari. (mb/okezone)














