Metrobatam, Banjarnegara – Diduga persediaan makanan habis akibat kekeringan, puluhan kawanan babi hutan menyerbu perkebunan dan merusak tanaman salak siap panen warga di Banjarnegara, Jawa tengah.
Kondisi tanaman salak di salah satu perkebunan salak milik warga desa Jlegong Karangkobar menunjukan salak usia siap panen rontok dan rusak akibat serangan babi hutan atau celeng.
Kawanan celeng yang berjumlah puluhan ini diduga turun gunung untuk mencari makan, akibat persediaan makanan di hutan habis karena kekeringan, serangan ini biasanya terjadi pada sore dan malam hari.
Berdasarkan laporan warga, saat ini babi hutan sudah menyerang lahan hingga luasan 2 hektar yang terdiri dari lahan perkebunan salak jagung dan singkong milik warga.
“Babi hutan menyerang dengan cara bergerombol, biasanya mereka menyerang pada sore dan malam, bahkan ada yang menyerang manusia, kami kini selalu berjaga-jaga dan ronda serta membuat jebakan celeng,” ujar Sartin warga Jlegong kepada Okezone, Rabu (20/9).
Mengantisipasi serangan terus meluas, warga bersama TNI berjaga-jaga di lokasi dan membuat perangkap babi hutan. Babi hutan bagi warga Desa Jlegong Karang Kobar menjadi hama, karena perkembangannya yang cukup pesat dan sering merusak tanaman warga.
Selain merusak tanaman, babi hutan juga bisa melukai warga atau petani yang bertemu dengan kawanan saat mengamuk. warga menghalau babi dengan berteriak dan memukul-mukul kentongan di tengah area kebun.
Sediakan Dua Ribu Tangki Air Bersih
Semenntara itu pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan sebanyak 2.000 tangki air bersih untuk membantu masyarakat yang daerahnya dilanda kekeringan pada musim kemarau tahun ini.
“Kami sudah menyediakan 2.000 tangki air bersih untuk menyuplai daerah-daerah yang kini kesulitan air seperti di Kabupaten Wonogiri, Banjarnegara, Banyumas dan Kebumen,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebagaimana dilansir antaranews, Selasa (19/9).
Ganjar mengungkapkan, berdasarkan data, terdapat 275 kecamatan yang terdiri dari 1.254 desa di 30 kabupaten/kota di Provinsi Jateng yang saat ini dilanda kekeringan. Sedangkan untuk jumlah kepala keluarga yang terkena dampak kekeringan sebanyak 404.201 KK atau 1,4 juta jiwa.
Terkait dengan hal tersebut, Ganjar menyebutkan bahwa pihak yang harus selalu siaga untuk mengatasi persoalan kekeringan tersebut adalah para kepala daerah setempat.
Politikus PDI Perjuangan itu mengaku telah memerintahkan pemerintah kabupaten/kota untuk bersiaga sejak Juni 2017 dan segera melaporkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng jika membutuhkan bantuan air bersih.
Menurut Ganjar, penyaluran air bersih ke daerah-daerah yang sudah mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini hanya solusi jangka pendek.
“Untuk penanganan jangka panjang perlu koordinasi dengan kepala daerah serta pihak terkait lain untuk membangun sumber-sumber air seperti embung, sumur bor, atau jaringan-jaringan air ke wilayah rawan kekeringan,” ujarnya. (mb/okezone)














