Sebut 212 Seperti Timses Capres, Ketum Parmusi Mundur Jadi Penasihat

Metrobatam, Jakarta – Ketua Umum Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam mengundurkan diri dari anggota penasehat Persaudaraan Alumni 212. Usamah menilai semangat gerakan PA 212 sudah berbeda.

Pada poin pertama dalam surat pengunduran dirinya, Usamah menganggap PA 212 adalah wadah untuk mempersatukan umat dengan semangat Aksi Bela Islam. Dia juga membeberkan sempat menjadi Bendahara Panitia Reuni 212 pada 2017. Namun, pada poin kedua, Usamah menilai PA 212 sudah bergerak dengan semangat yang berbeda.

“Dalam tiga bulan terakhir, terutama memasuki tahapan Pileg dan Pilpres 2019, saya melihat arah perjuangan PA 212 tidak murni lagi sesuai apa yang saya harapkan pada poin pertama,” mengutip bunyi surat yang dikonfirmasi Usamah, Selasa (27/11).

“Sebaliknya lebih banyak mengarah pada tim sukses salah satu calon Presiden, sehingga saya pribadi memutuskan lebih baik mengundurkan diri dari keanggotaan penasihat,” lanjut Usamah.

Bacaan Lainnya

Kemudian pada poin ketiga, Usamah mengutip ayat 216 surah Al-Baqarah.

“Yang dapat kita camkan bersama-sama, yang artinya: “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” tulis Usamah.

212 Kini Dianggap Bela Manusia

Usamah menganggap PA 21 kini sudah berbeda dengan dahulu. Mulanya, kata Usamah, PA 212 terbentuk berkat semangat aksi bela Islam pada 2016. Kala itu, aksi bela Islam memang ditujukan untuk menentang Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang dianggap melakukan penistaan agama karena menyinggung surah Al Maidah ayat 51.

Saat itu, Usamah mengaku turut mengarahkan kader-kader Parmusi agar ikut dalam gelombang Aksi Bela Islam.

“Tapi belakangan saya melihatnya arahnya dukung-mendukung capres. Ini aksi bela manusia. Pada satu sisi juga sudah ditunggangi. Bukan bela Allah lagi,” kata Usamah melalui sambungan telepon, tanpa menyebut siapa yang menunggangi.

Dahulu, lanjutnya, anggota dan simpatisan PA 212 juga berasal dari berbagai latar belakang. Lintas ormas, parpol, latar belakang pendidikan, juga lintas pandangan politik.

Usamah menganggap kondisi tersebut sudah tidak dapat ditemui. Terutama ketika PA 212 mendukung salah satu capres-cawapres. “Nah mendukung dukung capres ini kan memperkecil spektrum 212 sendiri. Sekarang dikerdilkan oleh teman-teman. PA 212 bajunya sudah besar, dikerdilkan,” kata Usamah.

“Begitu bicara dukung-mendukung, rusak semua ini,” ujar lanjutnya.

Surat pengunduran Usamah sudah diberikan kepada Ketua PA 212 Slamet Maarif pada 11 November lalu. Namun dia berharap tali silaturahmi antara dirinya dengan pengurus PA 212 tetap terjalin.

Capres Ijtima Ulama

Usamah Hisyam menyebut calon presiden yang ditetapkan dalam Ijtima Ulama II tidak sesuai dengan makna yang terkandung dalam surat Al-Maidah ayat 51. Hal itu merupakan salah satu alasan Usamah mundur dari anggota penasihat PA 212.

Ia menilai, gerakan 212 saat ini sudah tidak murni dan lebih cenderung seperti tim sukses salah satu calon presiden di 2019.

Menurut Usamah, esensi dalam surat Al Maidah ayat 51 adalah memilih pemimpin muslim yang kafah. Merujuk dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kafah berarti sempurna.

“Apakah Al Maidah 51 itu muslim minimalis atau kafah? Yang sekarang terjadi bagaimana?” ucap Usamah melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/11).

“Kok kemudian memilih figur pemimpin tidak sesuai dengan Al Maidah 51. Kalau kafah harus dilihat figur-figurnya,” lanjutnya.

Pada September 2018, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mendapatkan dukungan dari Ijtima Ulama II setelah menandatangani pakta integritas.

Kendati demikian, Usamah tidak menyebut Prabowo Subianto, bukan sosok pemimpin muslim yang kafah dan tidak pula menyebut Prabowo sosok muslim minimalis.

Usamah lantas menjelaskan bahwa PA 212 terbentuk dengan semangat menegakkan syariat Islam. Salah satunya yakni memilih pemimpin muslim sesuai dengan Al Maidah 51.

Usamah mengamini bahwa semangat tersebut memang diterapkan saat Pilgub DKI Jakarta. Namun, menurutnya, semangat yang sama juga harus diterapkan saat memilih pemimpin negara, yakni dalam kontestasi Pilpres 2019.

“Jangan justru memilih pemimipn DKI Jakarta sesuai dengan Al Maidah 51, tapi memilih pemimpin negara, Al Maidah 51 diabaikan,” ujar Usamah.

Usamah kemudian menyinggung hasil Rakornas PA 212 pada Mei lalu. Rapat tersebut menghasilkan lima nama capres, antara lain Rizieq Shihab, Prabowo Subianto, Tuan Guru Bajang Zainul Majdi, Yusril Ihza Mahendra, dan Zulkifli Hasan.

Usamah mengaku saat itu mendukung Rizieq ikut dalam Pilpres. Kemudian, dia juga mengamini bahwa Rizieq saat ini tidak bisa didapuk sebagai capres.

Meski begitu, kata Usamah, masih ada tokoh lain yang kiranya lebih patut untuk didukung. Tentu yang sesuai dengan esensi Al Maidah 51, yakni pemimpin muslim kafah.

“Kalau bukan Habib Rizieq, ya Zulkifili Hasan, atau Yusril Ihza, atau Tuan Guru Bajang. Kalau tentara, kan ada Gatot Nurmantyo yang lebih dekat dengan Islam,” ucap Usamah.

Usamah sendiri mengaku tidak diundang dalam Ijtima Ulama I dan II. Dia mengatakan hanya hadir di acara pembukaan Ijtima Ulama I. Ketika masuk agenda sidang, Usamah tidak diundang.

“Karena saya yang ingin Habib Rizieq menjadi nomor 1. Jadi enggak diundang karena ditakuti merusak Ijtima Ulama,” kata Usamah. (mb/cnn indonesia)

Pos terkait