Kapal Pukat Harimau Merajalela, Aparat Diminta Bersikap Tegas

Kapal Pukat Harimau Merajalela, Aparat Diminta Bersikap Tegas

METROBATAM.COM|BINTAN – Belakangan ini Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, sering menemukan kapal pukat harimau (trawl) beraktivitas di perairan Pulau Numbing dan di perairan Pulau Gentar, Kabupaten Lingga.

Syukur Harianto selaku ketua KNTI Bintan mengatakan aktivitas nelayan menggunakan pukat harimau itu pastinya meresahkan nelayan tradisional di daerah setempat apa lagi jumlahnya tidak sedikit, Rabu (20/10/21)

Bacaan Lainnya

“Pukat harimau tidak hanya merusak terumbu karang melainkan juga mengancam kepunahan ekosistem ikan,” Ujar Hariyanto.

Akibatnya, produktivitas nelayan tradisional di Perairan Pulau Numbing, Bintan, dan Pulau Gentar jauh menurun.

Ada sebanyak 20 kapal pukat harimau yang sudah kami identifikasi berdasarkan laporan nelayan rata-rata kapal tersebut, katanya, memiliki kapasitas 10-12 GT dengan ukuran panjang sekitar 20 meter. Kapal itu dapat menampung beban sekitar 10 ton.

“Kapal-kapal itu, sandar di tempat yang jauh dari aktivitas nelayan tradisional, namun masih di Perairan Bintan dan Perairan Tanjungpinang” Lanjutnya

“Kapalnya cukup besar, dengan intensitas kerusakan ekosistem di laut cukup tinggi jika tidak segera dihentikan,” Tambahnya

Ia mengatakan aktivitas kapal pukat harimau itu secara terselubung, bahkan pemilik kapal pukat harimau itu membuat seolah-olah kapal tersebut hanya memiliki jaring biasa dan bubuh.

Bagi nelayan tradisional tidak sulit mengidentifikasi kapal pukat harimau, kalau kita lihat sekilas seperti kapal biasa, tampak jaring dan bubuh.

“Permasalahan aktivitas pukat harimau tersebut sudah disampaikan kepada berbagai instansi yang berwenang.” tukasnya.

Para Nelayan berharap permasalahan ini segera diselesaikan untuk kepentingan nelayan tradisional Bintan dan Lingga.

(Erlangga)

Pos terkait