METROBATAM.COM, TANJUNGPINANG – Tim Search and Rescue (SAR) Gabungan meningkatkan eskalasi pencarian terhadap Christina Lindasari (43 tahun), penumpang Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Bahtera Nusantara 03 yang dilaporkan hilang dan diduga jatuh ke laut (man overboard) saat berlayar menuju Tambelan, Kabupaten Bintan.
Hingga Kamis (23/7/2026) siang, armada kapal penolong KN SAR 209 masih bergerak menyisir luasnya perairan Bintan untuk menemukan keberadaan korban.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kelas A Tanjungpinang, Fazzli, mengonfirmasi bahwa, operasi penyisiran bergerak intensif di titik perkiraan jatuhnya korban. Meski demikian, kondisi perairan dan dinamika cuaca di lapangan masih menjadi tantangan utama.
“Tim di lapangan masih berupaya maksimal melakukan pencarian. Hingga siang ini, hasilnya masih nihil (kosong, red),” ujar Fazzli saat dikonfirmasi MetroBatam lewat WhatsApp.
Kronologi: Korban Hilang saat Anak Tertidur
Peristiwa memilukan ini bermula ketika KMP Bahtera Nusantara 03 bertolak dari Pelabuhan Tanjung Uban menuju Tambelan pada Selasa (21/7/2026) malam, sekira pukul 23.00 WIB.
Nahas, saat kapal tengah melaju di lintasan perairan antara Lobam dan Numbing pada Rabu (22/7/2026) dini hari sekitar pukul 05.00 WIB, anak korban tersentak dari tidurnya dan mendapati sang ibu sudah tidak ada di tempat.
Seketika, pencarian mandiri dilakukan oleh para penumpang dan kru kapal. Namun, hingga kapal mendekati dermaga tujuan, keberadaan Christina tak kunjung ditemukan.
Pihak Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Tanjung Uban kemudian meneruskan laporan resmi kejadian ini ke KPP Kelas A Tanjungpinang pada Rabu malam pukul 19.30 WIB.
Strategi Penyisiran Presisi (Track Line)
Merespons laporan tersebut, KPP Tanjungpinang bergerak cepat menerjunkan tujuh personel awal untuk berkoordinasi dengan KSOP Kijang, Posal Kijang, serta memapelkan informasi kepada nelayan lokal.
Guna mengoptimalkan pencarian di area yang sangat luas, skala operasi dinaikkan pada Kamis pagi. Pukul 07.30 WIB, sebanyak 22 personel tim penolong bertolak dari Dermaga Kampung Bulang menggunakan KN SAR 209 menuju titik koordinat berjarak 37 Nautical Mile (NM) pada radial 130°.
“Mengingat jarak waktu kejadian dan luasnya area perkiraan, kami menerapkan metode penyisiran presisi (track line) sepanjang alur pelayaran kapal,” terang Fazzli.
Strategi penyisiran ini mencakup bentangan area sejauh 40 NM dengan jarak antar-lintasan (track spacing) sebesar 2,5 NM. Metode ini dipilih agar setiap jengkal titik rawan lintasan KMP Bahtera Nusantara 03 dapat terjangkau secara optimal.
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan bersama unsur potensi masyarakat dan nelayan terus berpacu dengan waktu di tengah gelombang perairan Kepulauan Riau, membawa harapan besar agar korban dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. (Ilh4m)














