TNI AL Tangkap 1,6 Ton Timah Jarahan di Pekajang, Dalang Diburu

METROBATAM.COM, LINGGA — Langkah tegas TNI Angkatan Laut menyergap praktik tambang ilegal di perairan Pulau Pekajang Besar, Kabupaten Lingga, sukses menyedot perhatian publik. Namun, penangkapan seorang pelaku bersama muatan raksasa hampir 1,6 ton pasir timah itu justru menyisakan teka-teki yang jauh lebih besar: siapa dalang utama yang mengendalikan bisnis gelap ini?

Operasi penyergapan kilat pada Senin (27/7) lalu tersebut dilancarkan oleh KRI Beladau-643 bersama Tim Satgassus Timah Pusintelal. Dari hasil penindakan, petugas mengamankan satu orang tersangka dan menyita 42 karung pasir timah bernilai tinggi dengan berat mencapai 1.596 kilogram. Seluruh barang bukti kini mendekam di Pangkalan TNI AL (Lanal) Dabo Singkep untuk proses hukum lebih lanjut.

Tindakan cepat prajurit jajaran TNI AL ini patut diacungi jempol. Kendati demikian, temuan timah dalam jumlah fantastis tersebut menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar penambangan liar skala kecil.

Jaringan bisnis timah ilegal umumnya bekerja sistematis, melibatkan mata rantai rumit dari penambang lapangan, penyokong dana (bohir), jaringan pengepul, hingga pembeli skala besar. Jika penyidikan berhenti hanya pada pekerja di lapangan, akar masalah perusakan lingkungan dan kebocoran penerimaan negara dipastikan tak akan pernah tuntas.

Bacaan Lainnya

“Keberhasilan operasi ini merupakan hasil sinergi dan kesiapsiagaan seluruh unsur yang terlibat dalam menjaga keamanan laut Indonesia,” tegas Komandan KRI Beladau-643, Letkol Laut (P) Akbar Suthawijaya, S.H., M.Tr.Opsla.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa negara tidak boleh kalah oleh permainan mafia tambang tanpa izin yang merusak ekosistem perairan Kepri.

Perairan Pekajang selama beberapa tahun terakhir memang terus menjadi sorotan akibat maraknya isu penambangan ilegal dan lemahnya pengawasan. Kini, bola panas berada di tangan aparat penegak hukum.

Penangkapan satu tersangka di laut hanyalah awal dari pembuktian panjang. Kini, fokus penyidikan mulai mengarah pada teka-teki utama yang menyelimuti bisnis gelap ini. Publik menanti transparansi penuh dari aparat penegak hukum

Penyidik kini mendalami lokasi pasti pengerukan pasir timah tersebut. Penelusuran ini penting untuk memetakan titik-titik perairan rawan di Pekajang yang disusupi secara ilegal dan merusak ekosistem laut setempat

Dari titik pengerukan, aliran bergerak ke rantai logistik. Aparat mulai mengejar sosok penyokong dana (bohir) yang membiayai operasional lapangan, serta mengidentifikasi jaringan pengepul dan penampung akhir yang siap membeli 1,6 ton hasil jarahan tersebut.

Ujian terberat penyidikan terletak pada keberanian menyentuh para dalang utama di balik layar. Tanpa menjerat aktor intelektual yang mengendalikan seluruh proses ini, penindakan di laut hanya akan berakhir sebagai penangkapan figur kelas teri semata.

(Awalludin) 

Pos terkait