Sani dan Perjuangannya untuk Kepri

Metrobatam.com – Filosofi hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, salah satunya ketika banyak orang mempertanyakan tentang niatnya untuk maju kembali mencalonkan diri dalam Pilkada Kepri 2015. Dengan santai dan lugas saat itu Sani menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah puisi yang mematahkan semua asumsi orang. “JIKA Anda punya semangat, punya mimpi, Anda berarti belum tua,” kata Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani sebelum Pilkada Kepri 2015.

Saat itu, Muhammad Sani mementahkan kepesimisan banyak orang yang menganggapnya terlalu tua untuk maju dalam Pilkada Kepri. Ia menegaskan usia hanyalah angka, yang terpenting adalah semangat dan kerja keras untuk mewujudkan mimpi.

Read More

Mimpi pria yang senang disapa “Ayah” itu adalah masyarakat Kepri yang sejahtera, memiliki infrastruktur dan akses transportasi antar pulau yang mumpuni demi membuka keterisoliran. “Interkoneksi listrik Batam-Pulau Bintan, kapal yang berlayar ke pulau-pulau, pembangunan infrastruktur dasar di pesisir, pengentasan kemiskinan, pembangunan waduk di beberapa kawasan Pulau Bintan, dan membuka akses Natuna, Anambas, dan Lingga. Ini pekerjaan yang harus diselesaikan,” katanya setelah dilantik sebagai Gubernur Kepri pada 12 Februari 2016.
Muhammad Sani tidak pernah main-main memimpin Kepri. Dia pekerja keras, meski impiannya “menghubungkan” pulau-pulau di Kepri belum tercapai. Sani di awal pemerintahannya fokus mengatasi permasalah listrik dan air. Selain itu, terus mendesak pemerintah pusat memberi bantuan kapal berukuran besar untuk Kepri dan membangun pelabuhan.

Jauh sebelum rencana tol laut mengemuka, Sani sudah memikirkan cara menyatukan pulau-pulau dengan transportasi handal. “Konektivitas” adalah kata yang tidak pernah hilang dari setiap ceramahnya, setiap kata sambutannya dalam acara-acara besar maupun kecil.

Tidak sekedar berkhayal dan berkata-kata, ia benar-benar mengejawantahkan mimpinya membangun konektivitas dengan mengupayakan pengadaan kapal perintis, pembangunan bandara dan pelabuhan.

Sani, di usia lebih dari 70 tahun tetap melaut, naik-turun kapal, menghadang gelombang tinggi ke pulau-pulau terpencil, demi memastikan proyek-proyek infrastruktur terbangun dengan baik.

Bandara Raja Haji Fisabilillah di Tanjungpinang, pelabuhan-pelabuhan di pulau-pulau kecil di Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas, interkoneksi listrik Batam-Bintan dan sejumlah kapal perintis yang melayari Kepri adalah bukti bahwa Sani berhasil mewujudkan mimpinya.

Satu lagi perjuangan Sani yang tidak dapat dilupakan adalah saat berhasil mengembalikan Pulau Berhala ke Bunda Tanah Melayu. Pada periode pertama kepemimpinannya, HM Sani berhasil mengembalikan pulau Berhala kedalam wilayah administrasi Provinsi Kepulauan Riau, di bawah Kabupaten Lingga.

Usaha Sani bukan usaha yang mudah, mengingat saat itu, Sani harus berjibaku melawan berbagai upaya dari Provinsi Jambi, dalam mempertahankan hak admimistratif pulau milik Sultan Lingga-Riau itu.

Sani bukan seorang yang mudah menyerah dan putus asa. Dia bersama tim pengusung pengembalian pulau Berhala, berkali-kali mengajukan banding ke Mahkamah Konstitusi (MK), atas keputusan Mendagri yang menetapkan Pulau Berhala bagian dari Provinsi Jambi.

Setelah keluarnya amar putusan Mahkamah Agung bulan Februari 2012 dengan menerima permohonan Pemprov Kepri untuk membatalkan Keputusan Mendagri tersebut, secara otomatis mengembalikan Pulau Berhala kedalam wilayah Kepri.

Muhammad Sani yang dikenal cukup kental dengan melayunya. Dia telah menaruh segudang jasa untuk Kabupaten Lingga, khususnya di bidang kebudayaan. Ditangannya, gedung lembaga adat melayu (LAM) Kabupaten Lingga dan Museum Linggam Cahaya tegak berdiri di dalam area perkampungan Melayu Istana Damnah, Daik Lingga.

Selain itu, penguatan program kebudayaan dari provinsi tiap tahunnya selalu diarahkan ke Kabupaten Lingga. Di dalam kepemimpinannya, ia selalu menekankan bahwa Melayu harus tetap menjadi tuan di tanahnya sendiri. (edj/antara/bbs)

Related posts