Ajukan Diri Jadi JC, Setya Novanto Kantongi ‘Black Box’

Metrobatam, Jakarta – Kuasa hukum terdakwa kasus korupsi proyek e-KTP Setya Novanto, Firman Wijaya, mengatakan, kliennya tengah menyiapkan nama-nama pihak yang terlibat dalam kasus senilai Rp5,9 triliun itu.

Firman mengatakan, pengungkapan nama itu penting sebagai salah satu syarat sebagai Justice Collaborator (JC) atau saksi pelaku yang bekerja sama dengan aparat penegak hukum.

Read More

“Untuk JC tunggu saja, beliau sedang persiapkan,” ujar Firman di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (5/2).

Firman mengatakan, selama persidangan Setnov selalu membawa buku catatan warna hitam yang memuat nama-nama pihak yang terlibat korupsi e-KTP. Ia menyebut buku itu ibarat black box atau kotak hitam yang ada di pesawat.

“Saya menyebutnya kalau pesawat jatuh itu black box harus dicari. Sama seperti buku beliau,” katanya.

Dalam ilmu hukum, lanjut Firman, dikenal istilah black law dictionary atau sejenis kamus. Buku catatan milik Setnov itu menurutnya juga seperti kamus yang memuat informasi tentang kasus korupsi e-KTP.

“Bisa saja ini kamus yang beliau ingin sebutkan di kasus e-KTP,” ucap Firman.

Catatan dalam buku itu disebut memuat sejumlah nama besar dalam proyek e-KTP. Firman meminta agar publik bersabar sampai nama-nama itu diungkap Setnov.

“Saya rasa kita tunggu saja karena posisi JC kan penting dalam instrumen penuntasan kasus. Berikan kesempatan Pak Novanto dan kuasa hukum bekerja,” tuturnya.

Setnov resmi mengajukan permohonan menjadi JC dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP pada awal Januari lalu. Surat tersebut sudah diterima penyidik KPK. Saat ini, lembaga antirasuah bakal mempelajari permohonan JC yang diajukan Setnov.

Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi Setnov sebelum pimpinan KPK menetapkan status JC dalam kasus e-KTP, seperti mengakui perbuatannya, mengungkap pelaku lain yang lebih besar, serta memberikan kesaksian secara benar kepada penyidik lembaga antirasuah. (mb/cnn indonesia)

Related posts