Terus Menangis, Petisi Bebaskan Meiliana Didukung Puluhan Ribu Orang

Metrobatam, Jakarta – Pengadilan Negeri Medan memutuskan menjatuhkan vonis 1,5 tahun penjara terhadap Meiliana asal Tanjung Balai, Sumatera Utara, karena delik penistaan agama. Namun, keputusan itu dianggap kontroversial hingga akhirnya muncul petisi supaya dia dibebaskan.

Dilansir dari situs change.org pada Kamis (23/8), petisi berjudul ‘Bebaskan Meiliana, tegakkan toleransi!’ dibuat oleh Anita Lukito pada Rabu (22/8) kemarin. Hingga Kamis (23/8) pukul 14.22 WIB petisi itu telah didukung oleh lebih dari 39 ribu orang.

Bacaan Lainnya

Anita menyampaikan petisi itu kepada Presiden Joko Widodo, Kementerian Agama, Mahkamah Agung, dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Dalam penjelasannya, Anita mengutip pendapat Wakil Ketua SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos, yang menganggap Meiliana hanya kambing hitam dari kerusuhan di Tanjung Balai beberapa waktu lalu.

Dalam penjelasannya, Bonar menyatakan keluhan Meiliana soal volume pengeras suara di masjid buat dekat tempat tinggalnya untuk kumandang azan sudah sesuai norma. Dia menyatakan Meiliana menyampaikan pendapatnya dengan santun dan tidak ada niat buat menyulut kerusuhan.

“Seluruh penduduk Indonesia memiliki hak yang sama. Di mana letak keadilan apabila perkara yang jelas bukan tindak kriminal, serta dapat diselesaikan dengan asas kekeluargaan dan toleransi, yang dianut oleh bangsa Indonesia, malah diputarbalikkan dan mengancam hak asasi seseorang. Vonis ini tidak dapat dibiarkan seenaknya, sementara Pemerintah Indonesia bertanggung jawab untuk menjamin hak setiap penduduknya, tak hanya sebuah golongan tertentu saja,” tulis Anita.

Hukuman itu dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, yang diketuai Wahyu Prasetyo Wibowo dalam sidang Selasa (21/8) lalu. Majelis hakim menyatakan Meiliana terbukti bersalah melakukan perbuatan penistaan agama yang diatur dalam Pasal 156A KUHPidana.

Kementerian Agama dalam Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 memang mengatur tentang penggunaan pengeras suara di Masjid, Langgar, dan Musala.

Khusus pada saat azan, Instruksi Dirjen Bimas Islam itu menyatakan sebagai tanda masuknya salat, suara azan memang harus ditinggikan. Suara muazin hendaknya fasih, merdu, enak tidak cempreng, sumbang, atau terlalu kecil. Sayangnya tidak dicantumkan batasan volume penggunaan pengeras suara saat azan.

Sementara itu Meiliana masih terus menangis setelah divonis 18 tahun bui akibat mengeluhkan volume suara azan di Tanjung Balai, Sumut. Anak Meiliana juga masih trauma hingga saat ini.

“Tadi kita jenguk ke LP Tanjung Gusta. Dia masih menangis terus. Tapi kondisinya sehat dan baik-baik saja,” kata pengacara Meiliana, Ranto Sibarani saat dihubungi, Kamis (23/8).

Meiliana adalah ibu dari 4 orang anak. Sejak peristiwa pada Juli 2016 silam, Meiliana telah pindah dari Tanjung Balai karena rumahnya dirusak.

Saat pindah tersebut, suami Meiliana kehilangan pekerjaannya. Anak Meiliana, yang baru lulus SMA, masih trauma. “Anaknya trauma melihat orang banyak,” ujar Ranto.

Meiliana mengapresiasi dukungan banyak pihak setelah dia divonis 18 tahun bui. Di sidang, Meiliana dan pengacaranya telah menyatakan banding namun mereka hingga saat ini belum menerima berkas putusan.

“Banding sudah kami sampaikan di sidang. Tapi sampai saat ini, putusannya kabarnya belum ditandatangani ketua PN,” ucap Ranto. (mb/detik)

Pos terkait