oleh

Raja Willem Minta Maaf atas Kekerasan Belanda di Masa Lalu, Ini Kata Menlu

Metrobatam, Jakarta – Raja Belanda, Willem Alexander, meminta maaf atas kekerasan yang dilakukan negaranya kepada Indonesia di zaman dulu. Pihak pemerintah Indonesia angkat bicara.

“Tadi di statement Presiden sudah jelas, 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Tahun 2005 Menlu Belanda, Bernard Bot, menyampaikan mengenai political and moral acceptance,” kata Retno di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/3/2020).

“Hari ini Raja menyampaikan i secara politik dan moral dan ada satu elemen yang baru yaitu beliau menyampaikan regret dan maaf atas kekerasan yang terjadi dari pihak Belanda,” ujar Retno.

Retno menyebut pernyataan yang disampaikan Raja Willem sudah cukup jelas. “Saya kira itu cukup jelas tidak perlu dijelaskan lebih lanjut,” katanya.

Seperti diketahui, Belanda sempat menjajah Indonesia selama lebih dari 3,5 abad. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, masih terjadi peperangan dengan pihak Belanda dalam momen yang umum disebut sebagai Agresi Militer I dan II.

“Di tahun-tahun setelah diumumkannya proklamasi, terjadi sebuah perpisahan yang menyakitkan dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Selaras dengan pernyataan pemerintahan saya sebelumnya, saya ingin menyampaikan penyesalan saya dan permohonan maaf untuk kekerasan yang berlebihan dari pihak Belanda di tahun-tahun tersebut,” ujar Raja Willem di Istana Kepresidenan Bogor.

Sedangkan Presiden Jokowi menegaskan bahwa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Indonesia kini menatap 75 tahun peringatan kemerdekaan.

“Tahun ini Indonesia merayakan 75 tahun kemerdekaan Indonesia yg kita proklamasikan 17 Agustus 1945. 75 tahun usianya, Indonesia terus menjadi bagian penyelesaian masalah dunia, berusaha terus berkontribusi dalam upaya perdamaian dan kesejahteraan dunia,” kata Jokowi kepada Raja Willem dan Ratu Máxima.

Bukan Berarti Melupakan

Partai Golkar menilai permintaan maaf itu perlu diterima, namun bukan berarti melupakan. Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan sikap Kerajaan Belanda untuk meminta maaf atas kekerasan yang terjadi setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia tentu harus kita terima dengan lapang dada. Menurutnya, peristiwa masa lalu itu, biarkan menjadi cerita kelam perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan kita.

“Tapi memaafkan bukan berarti melupakan. Forgiven not forgotten. Peristiwa itu, baik kolonialisme pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan menjadi catatan sejarah bangsa kita,” kata Ace kepada wartawan, Selasa (10/3/2020).

Ace mengatakan terpenting saat ini adalah bagaimana Indonesia dan Belanda bisa terus membangun hubungan baik. Menurutnya, hubungan baik antara kedua negara itu dalam rangka menghargai sesama bangsa yang berdaulat.

“Yang penting ke depan adalah bagaimana kita membangun hubungan yang baik, yang selama ini berjalan dengan baik dengan Belanda dalam kerangka saling menghormati dan menghargai sesama bangsa yang berdaulat dan saling menguntungkan antara kedua negara,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Raja Belanda Willem Alexander menyampaikan permintaan maaf dan penyesalan Pemerintah Belanda kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Raja Willem bukan minta maaf atas kekerasan di masa penjajahan, namun untuk kekerasan yang terjadi setelah proklamasi.

Seperti diketahui, Belanda sempat menjajah Indonesia selama lebih dari 3,5 abad. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, masih terjadi peperangan dengan pihak Belanda dalam momen yang umum disebut sebagai Agresi Militer I dan II.

“Di tahun-tahun setelah diumumkannya Proklamasi, terjadi sebuah perpisahan yang menyakitkan dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Selaras dengan pernyataan pemerintahan saya sebelumnya, saya ingin menyampaikan penyesalan saya dan permohonan maaf untuk kekerasan yang berlebihan dari pihak Belanda di tahun-tahun tersebut,” ujar Raja Willem di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/3).

Pidato Willem disampaikan dalam bahasa Inggris. Protokol Setpres lalu membagikan terjemahan pidato tersebut.

“Saya melakukan ini dengan kesadaran penuh bahwa rasa sakit dan kesedihan bagi keluarga-keluarga yang terdampak masih dirasakan sampai saat ini,” imbuh Raja Willem. (mb/detik)

News Feed