Beni Mantan Anggota DPRD 2 Periode Sebut UMKM Adalah Marwah dan Basis Ekonomi Tanjungpinang

METROBATAM.COM, TANJUNGPINANG – Suara lantang itu keluar di tengah ramainya Bazar Mooncake 2026 di Kota Lama, Sabtu (19/9) malam. Beni, mantan Anggota DPRD Kota Tanjungpinang dua periode yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat Tionghoa, blak-blakan soal marwah UMKM Kota Tanjungpinang.

Saat dijumpai MetroBatam.com di stand kuliner, Beni tak menahan kegemasannya menanggapi anggapan miring yang menyebut Tanjungpinang hanya menumpang hidup dari Kabupaten Bintan.

“Tanjungpinang itu hanya untuk dihina sama orang Bintan, katanya mereka punya pabrik penyerapan tenaga kerja sekian dari Tanjungpinang numpang kerja ke sana. Tapi dengan kita ada sektor UMKM, banyak juga orang Bintan numpang cari makan di tempat kita,” tegas Beni.

Menurutnya, hubungan itu saling membutuhkan. Fakta di lapangan, lanjut Beni, puluhan pelaku usaha di bazar malam itu justru berasal dari luar Tanjungpinang yang mengais rezeki di Tanjungpinang.

Bacaan Lainnya

“Semalam ada 16 UMKM kita tanya, mereka juga cari makan di tempat kita. Jadi jangan sombong. Kami didik mereka jadi entrepreneur, kalian numpang jadi entrepreneur di tempat kita,” ujarnya.

Beni menyebut UMKM bukan sekadar jualan jajanan. Inilah yang ia sebut sebagai Basis Perekonomian Rakyat yang sesungguhnya.

“Orang kerja di Bintan, capek-capeknya di sana, belanja jajannya di Pinang. Kita menikmati mereka kerja, belanjanya di sini bos. Kenapa itu penting? Karena perputarannya di sini,” jelasnya.

Ia menghitung, satu bazar saja bisa menghidupkan ratusan keluarga. ” Itu baru bicara stand, belum lagi belanja di pasar, beli ayam, beli tepung, kan berputar ekonomi itu. Jangan hanya lihat perputaran di sini, tapi perputaran sebelum barang jadi makanan, di belakang masih banyak loh,” sebutnya.

Beni yang mengaku sudah tak mau lagi bicara dengan bahasa kasar, menitip harapan halus namun menohok untuk Pemerintah Kota Tanjungpinang.

Pertama, pemerintah harus hadir dan memfasilitasi, bukan hanya mewajibkan. “Bila perlu ketika UMKM ini mau bikin acara, support, dikasih lah apa supaya meramaikan,” katanya.

Kedua, pola pelatihan harus diubah. Selama ini pelatihan masih seputar menjahit, padahal pasarnya sudah jenuh. Beni meminta pelatihan difokuskan ke makanan kekinian yang berstandar kesehatan dan kelayakan.

“Pelatihan menjahit-jahit terus, orang tidak dikasih mesin jahit tapi baju jahitnya dari Bandung dari mana-mana. Kalau makanan dilatih, yang menikmati orang sini juga, yang jualan orang sini juga. Contoh kayak kau punya moci, bikin pula moci es krim, kan berkembang terus,” ujarnya.

Ketiga, jadwal dan promosi. Ia mengusulkan agar bazar kuliner dibuat berkelanjutan – weekend di satu titik, Senin-Kamis di titik lain, sehingga perputaran terus ada. Dan yang paling penting, promosi harus keluar daerah, bahkan hingga ke Singapura dan Malaysia.

“Pemerintah harus terus mempromosikan itu keluar. Orang luar itu haus dengan hiburan, haus dengan makanan kayak gini. Aku pernah bawa kawan dari Singapura, aku bawa makan mie goreng dekat sini, tiap malam dia minta makan di situ. Mereka tidak pernah merasakan itu,” tegasnya.

Beni mengapresiasi terhadap Bazar Mooncake 2026 yang menurutnya sudah mulai banyak didatangi orang luar Tanjungpinang yang sengaja datang untuk melihat dan jajan.

Beni menegaskan Bazar Mooncake menjadi bukti, sektor UMKM adalah lapangan kerja yang nyata ketika lapangan kerja formal tak mampu disediakan

(Budi) 

Pos terkait