oleh

Jokowi Dijagokan jadi Ketum Golkar

-Tak Berkategori-50 views

jokowi

Metrobatam.com, Jakarta – Jelang Munas Partai Golkar muncul sejumlah nama yang digadang-gadang menjadi calon ketua umum partai berlambang pohon beringin itu. Kemarin, (Minggu, 14/2/2016), Wakil Ketua MPR Mahyudin telah mendeklarasikan diri maju sebagai calon ketum. Tidak ketinggalan, nama Joko Widodo

Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syarif Hidayat mengatakan Aburizal Bakrie akan rela dan legowo menyerahkan kursi ketua umum kepada Jokowi. Langkah ini dinilai logis karena akan menguntungkan kedua pihak.

“Saya yakin Ical akan menyerahkan kursi ketum ke Jokowi karena secara hitung-hitungan ekonomi politik ini langkah yang tepat. Penyerahkan kepada Jokowi hanya merupakan simbol saja. Artinya, siapapun ketumnya adalah kader Ical yang direstui Jokowi,” kata Syarif di Jakarta, Senin (15/2/2016).

Ical dikatakannya memiliki perhitungan politik, untuk itu dia akan menyerahkan kursi ketum atas restu pemerintah. Lalu, kenapa Ical tidak memilih Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)?

“Sejatinya Aburizal berharap JK bisa mengatasi konflik, tapi kenyataannya JK justru cenderung berpihak pada kubu Agung Laksono. Ini membuat Ical sadar dan ganti haluan. Kenapa harus ke JK yang cuma seorang wapres untuk membantu mengatasi konflik, kenapa tidak ke presiden saja sekalian? Kalau bisa melalui orang pertama kenapa harus melalui orang kedua,” tegasnya.

Golkar, menurutnya, memang tidak punya pilihan untuk tidak mendukung pemerintah atau dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Hanya caranya jika masuk langsung melalui Jokowi maka posisi Ical lebih memiliki daya tawar politik ketimbang masuk ke pemerintahan melalui JK. Kalau Golkar masuk melalui JK, menurutnya, maka seluruh kubu Ical bisa jadi tidak mendapatkan kursi kekuasaan.

“Kalau lewat JK, Ical itu ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kubu Ical akan sulit mendapatkan sesuatu dan justru kubu Agung lah yang akan mendapatkan kursi  di pemerintahan. Selain itu, sebagai pengusaha dan konglomerat, Ical tentunya berpikir, jika Golkar merapat melalui JK maka Ical akan rugi karena dia harus berhadapan dengan JK yang juga konglomerat dalam menguasai sumber-sumber ekonomi. Ical bisa jadi tidak mendapatkan apa-apa,” tambahnya.

Buat Jokowi sendiri dengan merapatnya Ical ini tentunya juga menguntungkan dirinya karena akan memperkuat kekuatan koalisi dan juga dirinya secara pribadi. Jokowi tampaknya sadar bahwa dengan mengambil alih Partai Golkar maka itu bisa mengamankan dirinya dalam menjalankan roda pemerintahan termasuk mengamankan dirinya untuk maju dalam periode kedua pilpres nantinya.

“Kita semua tahu, hubungan Jokowi dengan PDI-P sejak awal menang dalam pilpres tidak harmonis. Makanya sejak awal Jokowi juga secara demonstratif bertemu dengan Prabowo. Dia ingin menunjukkan bahwa dia juga punya dukungan yang lain. Langkah ini juga untuk mempersiapkan perahu lain, jika ternyata PDI-P tidak mau mendukungnya lagi maju pada periode kedua,” tegasnya.

Selain itu, langkah untuk menguasai Golkar ini diyakini juga karena alasan Jokowi yang ingin menghapuskan image yang dibangun oleh Ketua Umum PDIP, Megawati bahwa dirinya adalah petugas partai.

Sumber Warta Ekonomi