Ini Alasan Polisi Tahan Pembawa Bendera RI Bertuliskan Arab

Metrobatam, Jakarta – Novel Bamukmin dari Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) meminta agar Nurul Fahmi, pembawa bendera RI bertuliskan Arab tidak ditahan. Lalu kenapa polisi menahan Fahmi?

“Kenapa dia ditahan, karena dia tidak kooperatif. Kenapa dia tidak kooperatif,” ujar Kapolres Jaksel Kombes Iwan Kurniawan kepada detikcom di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (23/1).

Read More

Iwan mengatakan, penahanan adalah kewenangan penyidik. Ada beberapa hal mengapa penyidik melakukan penahanan terhadap Fahmi, salah satunya karena dinilai tidak kooperatif. “Karena dia waktu diperiksa tanda tangan BAP pun tidak mau,” ujar Iwan.

Selain itu, lanjut Iwan, Fahmi juga tidak hanya sekali saja membawa bendera bertulisan Arab tersebut. Fahmi sudah berkali-kali membawa bendera tersebut dalam kesempatan sejumlah aksi bela Islam.

“Dan dia sudah beberapa kali membawa bendera itu. Hasil penyidkkan, dia sudah melakukan dari aksi 411. Jadi sudah berkali-kali dari 411, 212, di depan Polres Metro Bekasi juga,” jelas Iwan.

Sebelumnya Novel yang menjadi salah satu kuasa hukum Fahmi mengatakan, bahwa kliennya awam soal hukum. Menurutnya, kliennya itu tidak mengetahui soal larangan mencoret-coret bendera yang diatur dalam UU No. 24 Tahun 2009. Fahmi hanya mencetak tulisan Arab di bendera Merah Putih karena terinspirasi dari internet.

“Saya bertahan untuk NF jangan ditahan. Kondisinya juga baru punya anak 12 hari. Dia tidak ada niat dan maksud. Bukan terkoordinir atau yang sengaja. Alamiah dan spontan,” kata Novel kepada detikcom, Minggu (22/1) malam.

Sementara pakar hukum pidana Universitas Indonesia (UI) Ganjar L Bondan menolak anggapan yang menyebut seluruh bendera Merah-Putih disebut sebagai lambang negara. Soal bendera sebagai lambang negara itu sudah diatur dalam undang-undang.

“Kalau kita bicara mengenai kejahatan terhadap bendera, harus lihat dulu. Harus paham dulu apa itu bendera. Yang utama, di UU No 24 Tahun 2009 Pasal 4, itu disebutkan apa itu bendera. Dan ukuran-ukuran bendera, dan masing-masing keperluannya. Jadi, kalau melihat apa yang ada di pasal 4 itu, tidak semua benda yang atasnya merah bawahnya putih adalah bendera,” kata Ganjar kepada detikcom, Minggu (22/1) malam.

“Jadi kita harus lihat dulu, apakah yang warna merah dan putih itu bendera atau bukan. Kalau ternyata bendera, baru ada larangannya. Larangannya termasuk mencoret-coret,” ucap Ganjar.(mb/detik)

Related posts