Ombudsman: Polisi Terlalu Disetir Kejar Info soal Kasus Novel

Metrobatam, Jakarta – Ombudsman RI menilai Polda Metro Jaya telah bekerja keras untuk mengungkap kasus teror penyidik KPK Novel Baswedan. Bahkan polisi terkesan disetir pihak luar untuk mengejar segala informasi yang pada akhirnya tidak akurat.

“Satu hal yang juga perlu diketengahkan bahwa kepolisian kelihatan sekali desperate (putus asa), bekerja berat untuk mencari saksi sehingga semua clue (petunjuk), semua info, petunjuk itu dikejar oleh kepolisian,” ujar Komisioner Ombudsman Prof Adrianus Meliala.

Read More

Hal ini diungkapkan Adrianus setelah meminta klarifikasi penyidik atas aduan Ahmad Lestaluhu, saksi di kasus Novel, ke polisi di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (25/1).

Polisi menggunakan metode deduktif dan induktif dalam proses penyidikan kasus tersebut. Selain memeriksa saksi-saksi, polisi melakukan pemeriksaan forensik digital untuk mencari bukti-bukti dan petunjuk.

“Baik itu yang berasal dari saksi yang ada di lokasi, bukti-bukti digital, demikian pula dari perkataan saudara Novel sendiri walaupun sampai saat ini Saudara Novel belum diperiksa secara resmi,” sambung Adrianus.

Desakan untuk menuntaskan kasus membuat polisi disetir pihak luar dengan informasi–di luar penyelidikan polisi sendiri–yang belum jelas akurasinya. “Nah jadi dalam hal ini polisi di-drive oleh apa-apa yang berkembang. Maka apa yang terjadi ya gini, karena ternyata tidak akurat, ternyata tidak pas, dan seterusnya sehingga kemudian timbul orang-orang seperti Lestaluhu ini,” papar Adrianus.

Lestaluhu diberhentikan dari pekerjaannya setelah polisi memeriksanya sebagai saksi. Pihak perusahaan merasa gerah atas beberapa kali pemanggilan terhadap Lestaluhu hingga memberhentikannya dari pekerjaan sebagai sekuriti.

“Sebetulnya bukan hanya Lestaluhu, tapi ada beberapa lainnya yang belum bisa kami sebutkan yang sebetulnya mengalami situasi yang sama seperti Lestaluhu ini,” tuturnya.

Saksi Baru

Adrianus berkeyakinan polisi masih akan terus mengembangkan penyidikan kasus teror Novel. Bahkan, menurutnya, polisi punya saksi baru terkait kasus tersebut.

“Misal tadi polisi sudah menemukan saksi baru, nah itu kemudian akan di-explore, mudah-mudahan tidak berakhir seperti Lestaluhu lagi, seperti kemudian nggak ada bukti,” tuturnya.

Adrianus juga memberikan tanggapan terkait pemanggilan polisi terhadap Ketua Umum PP Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak. Menurutnya, hal itu bukan sebagai upaya kriminalisasi, melainkan lebih kepada upaya polisi dalam menggali informasi dari luar.

“Itu sebetulnya dalam rangka polisi memverifikasi pendapatnya yang dikemukakan dalam televisi agar tidak hanya menjadi wacana, tetapi menjadi bukti petunjuk yang dikatakan sebagai mata elang itu, itu diharapkan menjadi bukti,” sambungnya.

“Bukan polisi ingin mengkriminalisasi atau membungkam, tetapi lebih karena polisi butuh petunjuk, maka kepada siapa pun yang kelihatannya–apalagi dalam pernyataan publiknya memberikan clue siapa itu pelaku–maka polisi mengejar kemudian diminta keterangan, diharapkan ketika keterangannya dalam bentuk BAP sebetulnya itu adalah unsur kejujuran di situ,” urainya.

Menurutnya, hal yang wajar jika polisi meminta keterangan Dahnil dan Direktur LBH Jakarta Alghiffari Aqsa, sebagai saksi kasus Novel, dengan tujuan mencari petunjuk.

“Yang jelas, motivasi polisi adalah polisi mencari semua clue, dan ketika yang bersangkutan akan dipanggil polisi, lebih kepada mencari tahu siapa orang itu sehingga kemudian dari situ polisi bisa masuk dengan langkah penyidikan yang lain,” cetusnya.

Belum Optimal

Ombudsman memberikan sejumlah catatan kepada penyidik berkaitan dengan proses penyidikan tersebut. Penyidikan belum membuahkan hasil yang signifikan karena menemui beberapa kendala, salah satunya minimnya keterangan saksi.

“Misal sebagai contoh, walau tidak bermaksud untuk preferensi atau apa, Saudara Novel sendiri belum pernah diperiksa secara lengkap, belum pernah di-BAP. Nah itu saja kemudian menjadi satu lost kekurangan karena dia saksi hidup dan tentu saja bisa bicara, nah mengapa yang bersangkutan tidak mau bicara, ya ini kemudian perlu kita cermati,” tambahnya.

Adrianus menegaskan polisi bekerja sungguh-sungguh untuk mengungkap kasus tersebut. “Yang jelas kalau dugaannya adalah polisi tidak bekerja, polisi tidak serius, apalagi main, apalagi menyimpan sesuatu, kelihatannya tadi kami mendapatkan semacam evidence (bukti) kelihatannya polisi bekerja serius,” tuturnya.

Sementara itu, Adrianus menilai pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) tidak perlu. “Kalau selama ini selalu ada suara-suara TGPF ini juga menarik untuk kita cermati bahwa kelihatannya nggak mudah, sehingga kalaupun ada keputusan pemerintah untuk memindahkan kewenangan lidik-sidik kasus ini kepada TGPF tersebut, kelihatannya nggak mudah juga,” paparnya.

“Nggak semudah yang diomongkan oleh berbagai pihak yang mendukung TGPF, karena tadi dari berbagai hal yang diungkap kepolisian itu, ternyata (polisi) desperate dalam rangka mencari clue tadi. Apakah dari TGPF bisa mencari banyak clue? Tapi kelihatannya kalau dalam kasus ini polisi desperate mencari clue tadi,” tandasnya. (mb/detik)

Related posts