Pesan Haedar Nashir ke Nadiem: Pendidikan Bukan Sekedar Digital

Metrobatam, Jakarta – Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, meminta semua kalangan praktisi dunia pendidikan memberi kesempatan Nadiem Makarim menjalankan tugasnya sebagai Mendikbud yang baru. Namun dia juga berpesan khusus kepada Nadiem agar terus belajar.

“Kita harus memberi kepercayaan juga kesempatan kepada para menteri termasuk yang muda-muda, termasuk mendikbud,” kata Haedar kepada wartawan saat meresmikan SM Corner Universitas Muhammadiyah Kudus, Kudus, Kamis (24/10/2019).

“Nanti kalau ada kekurangan, itu harus kita koreksi. Para menteri, termasuk Mendikbud, harus terbuka pada koreksi,” imbuhnya.

Haedar juga meminta semua pihak menghormati pilihan yang menunjuk Mendikbud bukan dari kalangan akademisi. Hak prerogatif presiden, kata dia, memungkinkan untuk menunjuk pembantu dari berbagai latar belakang.

Bacaan Lainnya

“Tentu Pak Nadiem harus membuka diri untuk belajar tentang pendidikan. Semua menteri yang bukan bidangnya harus belajar untuk rendah hati,” pesannya.

“Karena ngurus pendidikan kan bukan ngurus teknologi, bukan sekadar digital. Tapi juga urusan mencerdaskan kehidupan bangsa, yang itu urusannya akal budi. Pandai-pandailah semua belajar,” lanjut Haedar.

Lebih lanjut, dengan digabungkannya kembali pendidikan dasar dan menengah dengan perguruan tinggi, tentunya tanggungjawab yang dipikul Nadiem juga semakin berat. Karena itu dibutuhkan manajemen yang lebih ekstra uuntuk mengelolanya.

“Sarannya semua harus kerja sama. Pak Mendikbud ya dengan rendah hati harus belajar dari peguruan tinggi dan perguruan tinggi harus memberi masukan juga,” saran Haedar.

Bukan Hanya Urusan Cari Kerja

Hal yang sama diungkapkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK). Namun ia mengaku senang dengan hadirnya wajah-wajah milenial di jajaran menteri kabinet Presiden Joko Widodo. Salah satunya pendiri Gojek Nadiem Makarim yang ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Ridwan Kamil, kehadiran sosok milenial bisa menjadi warna baru dalam pemerintahan ke depan. Karena menurutnya kaum milenial itu selalu berorientasi terhadap hasil dan ini diharapkan bisa berdampak positif terhadap kemajuan negara.

“Kabinet punya semangat optimisme tinggi. Milenial-milenial masuk menteri. Gaya milenial biasanya berorientasi pada hasil, ini ditunggu presiden. Caranya terserah,” katanya di Hotel Hilton, Kota Bandung, Kamis (24/10/2019).

Dia juga berharap, muncul berbagai inovasi, kreativitas baru yang bisa berdampak terhadap kemajuan. Tapi tentu inovasi yang dihasilkan tidak melanggar aturan yang ada di Indonesia.

“Harapannya ada inovasi baru, kreativitas baru. Hasil terkejar tidak langgar aturan,” ucapnya.

Khusus kepada Mendikbud, RK berharap ada terobosan baru di bidang pendidikan. Terutama menghubungkan antara pendidikan dengan dunia kerja. “Sama dengan arahan Pak Jokowi kalau bisa ada Link and match ke Industri,” katanya.

Tapi dia mengingatkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan jangan selalu berpikir untuk mencetak sumber daya manusia yang siap kerja semata. Karena pendidikan bukan hanya mencetak para pekerja.

“Saya ingatkan satu hal bahwa pendidikan bukan hanya urusan mencari pekerjaan. Pendidikan menaikkan peradaban kita terhadap tantangan masa depan. Dua itu harus berimbang,” ujarnya. (mb/detik)

Pos terkait