Hakim Tegur Keras Sepupu Romi: Ngomong Aja Kenapa Sih?

Metrobatam, Jakarta – Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Fahzal Hendri menegur sepupu Romahurmuziy alias Romi, Abdul Wahab, lantaran kerap mengelak dan menampik dari sejumlah pertanyaan. Hakim menilai sepupu Romi itu tidak jujur dalam memberikan keterangan.

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama dengan terdakwa eks Ketua Umum PPP, Romahurmuziy di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (27/11).

Bacaan Lainnya

“Ngomong aja kenapa sih? Enggak perlu menutup-nutupi, membela saudara terdakwa [Romahurmuziy], enggak seperti itu. Ngomong yang benar,” tegur Hakim Fahzal ke Abdul Wahab.

Hal yang disembunyikan oleh Abdul Wahab, kata Hakim, adalah perihal tujuan bantuan uang yang diberikan Muafaq Wirahadi sebesar Rp41,4 juta untuk keperluan kampanye pencalonan dirinya sebagai Caleg DPRD Kabupaten Gresik. Abdul Wahab berkukuh menjawab ‘tidak tahu’ ketika dicecar hakim soal tujuan pemberian itu.

Muafaq adalah Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik. Ia telah divonis dengan pidana 1 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp100 juta subsider 3 bulan kurungan dalam suap jual beli jabatan ini.

“Dari awal wajah saudara saja saya sudah tahu banyak yang disembunyikan. Banyak keterangan yang saudara sembunyikan. Sanggahan saudara memberikannya saya tahu,” tutur Hakim.

“Dari awal kenapa Muafaq memberikan bantuan ke saudara itu apa sebabnya, itu yang saudara sembunyikan. Enggak perlu juga saudara sembunyikan,” tegas Hakim.

Hakim pun lantas mengingatkan Abdul Wahab perihal konsekuensi hukum. “Di sini ada penerima suap aktif, ada penerima suap pasif. Supaya saudara tahu,” lanjutnya.

Diketahui Abdul Wahab tidak lolos menjadi anggota DPRD Kabupaten Gresik. Ia hanya memperoleh suara sekitar 1.500 suara dari batas minimum 8.000 suara.

Dalam perkara ini Romi didakwa menerima suap terkait pengisian jabatan di Kementerian Agama. Ia disebut meminta mantan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mengangkat Haris Hasanudin sebagai Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur dan Muafaq Wirahadi sebagai Kepala Kantor Kemenag Gresik.

Sementara Romi disebut pernah dibayari biaya menginap di hotel di Jatim sebesar Rp12 juta. Hal ini terungkap dari BAP saksi, Markus, yang dibacakan hakim di muka persidangan.

Permintaan pembayaran itu dilakukan atas perintah Haris Hasanudin. Namun biayanya disebut dibayarkan oleh Muafaq.

Debat Istilah ‘Persekot’

Istilah ‘persekot’ yang muncul dalam persidangan terdakwa Romahurmuziy alias Rommy memicu perdebatan. Jaksa KPK mencari tahu apa arti dari ‘persekot’ yang disampaikan seorang saksi.

Saksi tersebut bernama HM Roziqi yang merupakan mertua dari Haris Hasanudin. Haris telah dinyatakan terbukti bersalah memberikan suap ke Rommy untuk mendapatkan jabatan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur (Kakanwil Kemenag Jatim).

Kembali pada kesaksian Roziqi. Dia rupanya pernah berkomunikasi dengan Haris mengenai uang untuk Rommy. Keterangan Roziqi itu tertuang dalam berita acara pemeriksaan (BAP) nomor 45. Ini isinya:

Alhamdulillah kulo wingi engges mampir omah Rommy di Condet, kalih maringi persekot komitmen.

“Di BAP ini, Saudara menterjemahkan dalam bahasa Indonesia ‘Alhamdulillah saya sudah berkunjung ke rumahnya Mas Rommy di Condet, dengan memberikan persekot uang muka komitmen’. Ini Saudara menjelaskan tentang persekot itu adalah uang muka komitmen, dasarnya apa?” tanya jaksa pada Roziqi yang duduk di kursi saksi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2019).

“Jadi sekali lagi memang dia (Haris) waktu memberikan penjelasan ke saya, seperti yang ada di pembicaraan itu, dia betul. Pemahaman saya kan uang ya mungkin, bentuk lain kan mungkin juga,” jawab Roziqi.

Jaksa heran lantaran ada ketidakjelasan antara persekot sebagai uang muka komitmen dengan hubungan Haris dan Rommy. Roziqi pun akhirnya mengakui bila ada kesepakatan di belakang pemberian persekot itu yaitu mengenai proses seleksi jabatan tinggi bagi Haris.

Hal itu termaktub dalam BAP Roziqi lainnya yang dibacakan jaksa. Berikut ini isinya yang dibenarkan Roziqi setelah dibacakan jaksa dalam sidang:

Sepengetahuan saya Haris mendatangi kediaman Rommy di Condet Jakarta untuk bersilaturahmi terkait seleksi jabatan yang sedang dia ikuti di Kemenag RI. Sebagaimana saya sampaikan pada pemeriksaan selanjutnya, Haris memang telah menyampaikan kepada saya, bahwa dirinya memang pernah bertemu dengan Rommy untuk meminta bantuannya, membantu Haris Hasanudin agar lolos dalam proses seleksi jabatan pimpinan tinggi di Kemenag RI 2018-2019

Dalam persidangan ini, Rommy didakwa menerima suap dari Haris dan M Muafaq Wirahadi. Suap Rp 325 juta disebut diterima Rommy dari Haris untuk jabatan Kakanwil Kemenag Jatim, sedangkan dari Muafaq disebut sebesar Rp 91,4 juta karena membantunya mendapatkan jabatan Kepala Kemenag Kabupaten Gresik. Semua perbuatan Rommy itu disebut KPK dilakukan bersama-sama dengan mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (mb/detik)

Pos terkait