Prancis Larang Warganya Keluar Rumah, PM Kanada Tutup Perbatasan

Paris – Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan warganya untuk tinggal dirumah. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memerangi virus Corona.

Dilansir AFP, Selasa (17/3/2020) warga Prancis diminta untuk tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan belanja. Disebutkan, bila perintah tersebut dilanggar maka warga akan diberikan hukuman.

Macron meminta, warga Prancis harus sangat membatasi pergerakan dan kontak sosial. Dia mengatakan, kondisi ini akan diberlakukan hingga 15 hari.

“Sangat membatasi pergerakan setidaknya untuk 15 hari ke depan dan membatasi kontak sosial sebanyak mungkin. Setiap pelanggaran terhadap rezim baru ini akan dihukum,” kata Macron.

Bacaan Lainnya

Dalam pidatonya, Macron disebut berulangkali menyampaikan bahwa Prancis saat ini ‘berperang’ dengan virus Corona.

Dia juga mengumumkan, bahwa pemilihan lokal untuk putaran kedua yang sebelumnya dijadwalkan 22 Maret akan ditunda. Tidak hanya itu, menurutnya Uni Eropa telah sepakat menutup perbatasan eksternal selama 30 hari ke depan.

Sementara itu Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengumumkan pihaknya menutup perbatasan wilayah. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Corona.

Dilansir AFP Selasa (17/3/2020), perbatasan negara Kanada ditutup untuk seluruh pengunjung asing kecuali Amerika. Dia meminta seluruh warga Kanada untuk tidak keluar rumah. “Semua orang Kanada, sebanyak mungkin, juga harus tinggal di rumah,” ujar Trudeau.

Trudeau beserta keluarganya disebut saat ini tengah melakukan karantina sendiri. Setelah istrinya Sophie Grégoire, dinyatakan positif Corona.

Dia juga mengatakan, akan menolak warga asing yang akan masuk ke Kanada.

“Kami akan menolak masuk ke Kanada, untuk orang-orang yang bukan warga negara Kanada atau penduduk tetap,” kata Trudeau.

Sedangkan terkait tetap diperbolehkannya AS masuk ke Kanada. Trudeau mengatakan hal ini karena adanya integrasi kedua negara terkait ekonomi.

“Tingkat integrasi kedua ekonomi kita yang tinggi dan koordinasi yang kita miliki,” tuturnya

“Ini menempatkan AS dalam kategori yang terpisah dari seluruh dunia,” tambahnya.

Setelah adanya pengumuman tersebut, beberapa gedung mulai tutup, seperti gedung pengadilan, gedung olahraga hingga restoran dan sekolah. Acara olahraga dan hiburan utama telah dibatalkan.

Sedangkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memprediksi kasus corona di AS akan berakhir pada bulan Juli.

Diansir AFP, Selasa (17/3/2020) pernyataan ini disampaikan Trump saat ditanya berapa lama wabah virus Corona yang menyerang AS akan berlangsung. Trump mengatakan, jika penanganan dilakukan dengan baik maka akan bekahir pada Juli atau Agustus.

“Jadi bagi saya tampaknya, jika kita melakukan pekerjaan yang sangat baik … orang-orang membicarakan tentang Juli, Agustus, sesuatu seperti itu,” kata Trump.

“Jadi itu bisa jadi benar pada periode waktu itu di mana, kataku, sudah lewat.” sambungnya.

Trump meminta warga Amerika untuk dapat membatasi pertemuan dengan jumlah orang yang banyak, baik di dalam maupun luar ruangan. Trump mengatakan AS saat ini mungkin menuju resesi karena adanya virus Corona.

Diketahui, sebelumnya dalam Trump sudah mengumuman situasi ‘darurat nasional’ terkait wabah virus Corona. Dengan hal ini, Trump berarti mengizinkan pencairan dana federal sebesar nyaris US$ 50 miliar atau setara Rp 725,8 triliun, untuk disalurkan ke negara-negara bagian yang terdampak wabah ini. (mb/detik)

Pos terkait