Densus 88 Tangkap Simpatisan ISIS di Depan Polsek Kalideres Jakarta

Metrobatam, Jakarta – Satuan elit Densus 88 Anti Teror menangkap seorang pria di kawasan Kaliders, Jakarta Barat, tepatnya di depan Polsek Kalideres. Pelaku diduga simpatisan ISIS.

Kanit Reskrim Polsek Kalideres AKP Khoiri saat dikonfirmasi membenarkan adanya penangkapan tersebut.

Read More

“Iya itu dari Densus infonya yang gerak, tetapi kami tidak tahu detilnya. Silakan tanyakan ke Mabes Polri,” ujar Khoiri saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (18/11).

Informasi yang dihimpun detikcom, penggerebekan dilakukan pada pukul 09.00 WIB di sebuah rumah di kawasan Pasar Iplo, Kalideres, Jakarta Barat. Sejumlah barang bukti diamankan petugas Densus di lokasi tersebut.

Seminggu sebelumnya Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar menyebut gerakan separatisme mengancam persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Boy menganggap masih banyak kegiatan ISIS yang belum terdeteksi oleh negara.

“Gerakan ISIS itu mengancam negara kita yang berdasarkan Pancasila. Artinya itu banyak sekali juga kegiatan-kegiatan yang belum terdeteksi dengan baik terutama mereka yang di luar (negeri),” kata Boy usai apel di halaman Mako Brimob, Kelapa Dua, Cimanggis Depok, Jumat (11/11).

Gerakan separatisme itu menjadi ancaman bagi kehidupan berbangsa. Boy menyebut gerakan separatisme seperti yang dilakukan oleh ISIS cenderung menggunakan agama untuk menarik massa.

“(Sebenarnya itu) konflik horizontal di negara mereka (Suriah) pakai gerakan ISIS mengatasnamakan simbol-simbol agama. Banyak sekali anak muda kita terpengaruh gerakan itu,” kata dia.

Soal kabar tewasnya salah satu panglima ISIS asal Indonesia di Suriah, Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal Al Yemeni Al Indunisi pun belum menjamin matinya gerakan ISIS di Indonesia. Pasalnya banyak gerakan separatisme yang terselubung dan digerakkan dari luar Indonesia.

“Kan mereka berada diluar jangkauan kita dan di luar otoritas yurisdiksi kita,” jelas Boy.

Salah satu upaya yang dilakukan Polri, kata Boy, adalah meningkatkan kerjasama internasional seperti kegiatan interpol di Bali lalu. Boy mengamini butuh kerjasama antarnegara untuk mengatasi terorisme.

“Kerjasama internasional, kemarin interpol itu salah satunya bahas itu. Kerjasama internasional sangat penting. Artinya negara terkait harus menyatukan kekuatan untuk melakukan antisipasi terhadap konflik horizontal di dalam negerinya mereka,” terang dia.(mb/detik)

Related posts