Penangkapan 11 Aktivis Terduga Makar Dinilai Sah dan Wajar

Metrobatam, Jakarta – Penangkapan 11 tokoh dan aktivis yang diduga melakukan pemufakatan makar dinilai wajar dalam konteks menjaga keamanan negara. Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto mengatakan, penangkapan itu sah menurut peraturan perundang-undangan.

“Menurut hukum yang ada sih sah-sah saja. Selama ada pasal yang mengaturnya dan bukti permulaan yang cukup, sah-sah saja polisi menangkap,” kata Bambang, Minggu (4/12).

Read More

Bambang mencontohkan, eks Ketua KPK Abraham Samad ditersangkakan akibat membantu orang membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP). “Jangankan dalam kasus makar, bantu orang bikin KTP saja bisa ditersangkakan seperti kasus Abraham Samad tahun kemarin,” terang dia.

“Dalam konteks menjaga kemanan negara dan ini yang sering dijadikan alasan Polri. Itu wajar dilakukan,” sambungnya.

Problem dari kasus ini, lanjut Bambang adalah penjelasan dari Polri mengenai penangkapan aktivis dan tokoh atas tudingan makar.

“Problemnya bukan sah atau tidak sah, atau wajar tidak wajar, tapi lebih luas dari itu yakni demokrasi kita akan dikemanakan bila Polri menggunakan pasal makar diterapkan pada lawan-lawan penguasa,” tandasnya.

“Ini yang harus bisa dijelaskan dan dibuktikan Polri,” tegas dia.

Sementara Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Siradj meminta pihak kepolisian memproses hukum secara adil dugaan tindak pidana makar terhadap para aktivis. Bahkan, ia mengimbau agar aparat berlaku obyektif.

“Saya mohon kepada kepolisian agar objektif seadil-adilnya. Kalau memang terbukti di proses secara hukum yang ada, kalau tidak terbukti segera dilepaskan,” kata Said.

Kiai asal Cirebon, Jawa Barat, itu menjelaskan, polisi harus membuktikan secara jelas tindak pidana makar tersebut. Sebab, menurutnya para tokoh dan aktivis yang ditangkap itu saudara sebangsa dan setanah air.

“Itu saudara kita sebangsa dan se-tanah air. Kalau memang terbukti makar, ya ada undang-undangnya, ada sanksinya, tapi harus dengan bukti yang benar-benar bukti (kuat),” sambungnya.

Seperti diketahui, Polri telah mengkonfirmasi telah menangkap 11 tersangka terkait tindak pidana makar pada Jumat, 2 Desember 2016.

Sementara terkait aksi super damai, kemarin, Said bersyukur bahwa acara yang dihelat di Monas itu benar-benar damai.

“Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT. Allah masih menjaga bangsa Indonesia. Tidak pecah, tidak bentrok, dihadiri jutaan manusia, khusyuk, berjalan damai dan aman,” sambugnya.

Terlebih lagi, ia mengaku khawatir apabila ada penunggang gelap yang ingin memecah belah bangsa. Bahkan, ia menyebut aksi itu tulus tanpa maksud memamerkan kekuatan. Aksi kemarin juga dilakukan di daerah lain, selain di Jakarta.

“Yang saya khawatirkan kalau ada penyusup yang tidak ingin Indonesia ini kuat dan bersatu. Saya imbau waktu itu warga NU tidak usah ikut di Jakarta. Kalau mau doa di daerahnya masing-masing. Jadi niatnya ikhlas dan tulus bukan pamer kekuatan,” tandasnya.(okezone)

Related posts