Inilah Potret Hakim Jamaluddin dan Eksekutor Jefri Ngopi Bareng sebelum Pembunuhan

Metrobatam, Medan – Hakim PN Medan, Jamaluddin, dan eksekutor pembunuhnya, Jefri Pratama, saling mengenal. Sebelum pembunuhan terjadi, Jamaluddin dan Jefri Pratama pernah terpotret dalam momen santai.

Dari informasi yang dihimpun, tersangka eksekutor Jefri Pratama pernah bertemu dengan hakim Jamaluddin untuk ngopi bareng di kafe di Kota Medan.

Bacaan Lainnya

Dari foto yang beredar, Jamaluddin dan Jefri duduk bersebelahan. Jefri terlihat sedang memperhatikan Jamaluddin.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Tatan Dirsan Atmaja membenarkan bahwa keduanya pernah bertemu.

“Iya, saling kenal. Mereka pernah bertemu. Tapi nggak akrab lah,” jelas Tatan saat dimintai konfirmasi detikcom, Kamis (16/1/2020).

Tatan sebelumnya menjelaskan, Jefri dan istri Jamaluddin, Zuraida Hanum, berencana menikah setelah melakukan pembunuhan. “Itu rencana mereka, rencana itu disampaikan saat rekonstruksi,” jelas Tatan, Selasa (14/1).

Hari rekonstruksi kedua kasus pembunuhan hakim Jamaluddin digelar. Hakim Jamaluddin tewas di tangan eksekutor suruhan Zuraida Hanum.

Di-setting Tewas Kecelakaan

Polda Sumatera Utara (Sumut) kembali menggelar rekonstruksi pembunuhan hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jamaluddin. Pada rekonstruksi kedua ini, akan ada 77 adegan yang diperagakan para tersangka.

“Jadi jumlah adegan di rumah ini 54. Dan nanti juga dilengkapi dengan pembuangan jasad korban. Jadi 77 adegan,” kata Kapolda Sumut Irjen Martuani Sormin di Perumahan Royal Monaco, Jl Eka Surya, Medan Johor, Medan, Kamis (16/1/2020).

Perumahan Royal Johor merupakan tempat tinggal hakim Jamaluddin bersama keluarganya. Di lokasi ini Jamaluddin dihabisi.

Zuraida Hanum, istri Jamaluddin, sebelumnya menjemput kedua eksekutor Jefri Pratama dan Reza Fahlevi dari Graha Johor. Jefri dan Reza menyiapkan diri menjelang membunuh hakim Jamaluddin.

Mereka memakai sarung tangan dan masker. Rencana awal, para pelaku hendak membuat skenario seolah-olah hakim Jamaluddin mengalami serangan jantung.

“Skenario pertama adalah korban diskenariokan mati karena mengalami serangan jantung. Makanya mereka tidak menggunakan benda kekerasan, tapi hanya menggunakan bantal dan bed cover,” ujar Martuani.

Skenario itu gagal karena ada luka lebam di muka hakim Jamaluddin setelah tewas dibekap bantal dan bed cover. Para pelaku sempat berdebat hingga memutuskan membuat skenario hakim Jamaluddin tewas akibat mengalami kecelakaan.

“Di sinilah para tersangka ada perdebatan sehingga diputuskan membuang jasad korban jam 4, menjelang terang. Kenapa diputuskan di Desa Kutalimbaru, karena tak ada tempat lagi, sudah berkejaran dengan waktu, hari sudah mau terang. Orang sudah mulai keluar rumah, maka diputuskan tempat yang paling dekat, perkebunan itu. Dan mereka cek mobil bisa dimasukkan ke dalam jurang, seolah-olah laka lantas,” ujar Martuani. (mb/detik)

Pos terkait