Reaksi USBN 2020 Dihapus, Guru Khawatir Murid Senang

Metrobatam, Jakarta – Penghapusan Prosedur Operasional Standar (POS) Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) memantik reaksi beragam dari lingkungan sekolah. Dampak dari USBN 2020 dihapus, pihak sekolah memiliki kewenangan penuh untuk membuat soal sendiri dalam penyelenggaraan ujian.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 10 Jakarta, Rahmat Apriyanto mengungkap sedikit kekhawatiran. Menurutnya, ketika USBN ini dihapuskan, mestinya ada beberapa standardisasi bagi pencapaian siswa untuk dapat dinyatakan lulus yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Ya sepakat saja [penghapusan USBN], tapi kami butuh standar yang jelas tentang patokan nilai keberhasilan siswa,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (22/1).

Lagipula, dengan keberadaan standar tersebut, kata dia, soal yang akan diujikan harus benar-benar disesuaikan dengan ukuran kemampuan siswa masing-masing sekolah. Ia khawatir akan ada subjektivitas dalam pembuatan soal tiap sekolah.

“Dulu soal itu kan dari MGMP 75 persen (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) dan 25 persen dari pemerintah, itu yang jadi acuan sekolah-sekolah dalam satu wilayah Provinsi, kalau buat sendiri kan kita takut juga [kemampuan murid],” tuturnya.

Kendati demikian ia menyambut baik maksud dari Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Sekolah menangkap iktikad Mendikbud untuk menekankan kemampuan siswa, bukan pada pengerjaan soal dengan cara menghafal saja.

Selain pendidikan karakter, ia menyebut pihak sekolah sudah menerapkan sistem pengajaran konseptual sebelum rencana penghapusan UN dan USBN diadakan. Sebagai guru pengampu Matematika, ia mencontohkan kolaborasi dalam pelajarannya tidak hanya menekankan jawaban angka pasti, tapi ada pola-pola yang dibangun agar siswa dapat menghubungkan keterkaitan dengan pelajaran lain.

“Adanya kolaborasi antarpelajaran, mungkin itulah yang dimaksud Pak Nadiem,” ujarnya.

Selain tenaga pendidik, penghapusan USBN menimbulkan beberapa reaksi dari murid sekolah.

Audri, siswi SMAN 10 Jakarta menilai dengan dihapuskannya USBN tahun ini akan mempermudah dirinya dalam mengerjakan soal ujian karena wewenang pembuatan soal dari pihak sekolahnya sendiri.

“Bagus sih, jadi soal ujian tidak ada yang sama [seperti sekolah lain], senang soalnya dapat kisi-kisi dari guru sendiri, karena yang bikin soal sekolah,” ujarnya.

Senada dengan Audri, Kessya, siswi kelas XII SMAN 2 Jakarta sepakat dengan penghapusan USBN.

“Jadi kita kalau belajar bisa langsung fokus ke ujian baru pengganti itu kayak UN, juga enak juga soal dari sekolah kan,” ujarnya.

Kessya berkaca kepada pengalaman USBN SMP yang membuatnya harus mempelajari mata pelajaran yang diujikan dari pelajaran kelas satu.

“Ya gak fokus, harus beli-beli buku, belajar ulang dari matpel (mata pelajaran) kelas satu,” jelasnya.

Sementara itu, Luthfiah, siswi kelas XII SMAN 10 menyayangkan penghapusan USBN. Dia menilai enggan dijadikan uji coba baru pemerintah.

“Masih takut juga uji coba seperti ini, akan gimana gitu, enakan dulu saja sudah pasti,” ujarnya.

Ia kembali mengingat pengalaman USBN sewaktu Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang baginya sesuatu yang seru untuk diingat.

“Ya dulu belajar rajin gitu, ikut bimbel, yah belajar banyak tapi seru,” lanjutnya.

Sebelumnya, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) resmi menghapus Prosedur Operasional Standar (POS) pelaksanaan USBN mulai tahun 2020. Penghapusan USBN tahun 2020 merupakan amanat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 43 Tahun 2019.

Dengan keberadaan ini, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tidak lagi membuat rujukan untuk USBN karena pembuatan soal maupun penyelenggaraan USBN diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Seperti diketahui, sebelum USBN 2020 dihapus, 75 persen soal USBN dibuat oleh Dinas Pendidikan Provinsi (melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran), sedangkan 25 persen dibuat BNSP. (mb/cnn indonesia)

Loading...

Related posts