oleh

Perjuangan Kepsek Jemput Siswa SLB Pakai Gerobak di Pelosok Riau

Metrobatam, Pekanbaru – Di pelosok Indonesia, masih banyak yang berjuang demi pendidikan. Seorang kepala sekolah di Kepulauan Meranti, Riau, tiap hari menjemput siswanya pakai gerobak agar mau bersekolah.

Inilah sepenggal kisah Syafrizal (34) kepala sekolah luar biasa (SLB) Sekar Meranti, di Desa Anak Setatah, Kec Rangsang Barat, Kab Kepulauan Meranti, Riau. Dia saban hari menjemput siswanya agar mau bersekolah dengan gerobak motornya.

Gerobak itu terbuat dari papan dengan dua roda kanan dan kiri. Gerobak kayu berwarna gelap itu ditarik dengan motor Honda Grand tahun 1992. Motor butut milik Syahrizal ini sebagai sarana transportasi buat siswa di SLB yang dia pimpin. Gerobak itu biasanya dipergunakan untuk membawa karet dari hasil perkebunan warga sekitar.

SLB yang terdiri dari tingkatan SD, SMP dan SMA ini memiliki 29 siswa disabilitas atau anak berkebutuhan khusus. Sekolah ini letaknya berada di sebelah rumah Syafrizal. Sekolah SLB ini dibangun tahun 2013 lalu.

“Orangtua mereka tidak ada yang mau mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Berbagai alasan, ada yang sibuk karena pagi-pagi harus sudah pergi ke ladang,” kata Syafrizal dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (4/9).

Walau letak sekolah berada di sebelah rumahnya, namun saban hari dia harus menjemput siswanya dari rumah ke rumah dari 12 desa yang ada di Kecamatan Rangsang Barat itu.

Butuh kesabaran dan keikhlasan untuk berjibaku agar anak-anak berkebutuhan khusus itu mau bersekolah. Gerobak itulah, sebagai sarana penting untuk mengangkut siswanya dari penjuru desa.

Untuk menjemput siswanya, gerobak kayu itu pun digandeng di belakang motor butut milik Syafrizal. Dia berkeliling dari satu desa ke desa lainnya. Minimal dalam sehari pria yang masih lajang bisa membawa 8 hingga 10 orang dalam gerobak itu.

Dengan jalan setapak, Syafrizal wara-wiri menjemput siswanya. Dia juga harus bersabar, menunggu muridnya yang kadang saat dijemput belum berseragam sekolah.

“Gerobak saya hanya bisa ditumpangi maksimal 10 orang. Jadi murid saya duduk di gerobak yang saya tarik dengan sepeda motor. Saya datangi dari rumah ke rumah,” kata Syafrizal.

Jika tidak dijemput, katanya, jangan harap siswanya mau datang ke sekolah. Ini karena orangtua mereka umumnya keluarga miskin. Waktunya dihabiskan untuk pergi ke ladang. Sehingga mereka pun kurang perhatian pada anaknya yang mengalami kekurangan mental tersebut.

“Karena orangtuanya yang kurang perhatian, jadi biarlah saya bersama guru-guru lainnya berjuang untuk menjemput mereka,” kata Syafrizal.(mb/detik)

News Feed