Data BNPT soal Kampus Terpapar Radikalisme Dipertanyakan

Metrobatam, Jakarta – Badan Nasional Penanggulan Teroris (BNPT) menyebut saat ini paham radikalisme banyak menyasar mahasiswa baik di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS). BNPT menyebut mahasiswa-mahasiswa yang disebut BNPT terpapar radikalisme banyak berasal dari fakultas eksakta dan kedokteran.

Pernyataan itu dinilai blunder. Pengamat terorisme Al Chaidar justru menyebut pernyataan yang diungkapkan salah satu petinggi BNPT itu tak berdasar.

Read More

Al Chaidar mengaku selama ini tak melihat mahasiswa menyukai terorisme atau paham-paham radikalisme yang mengarah pada tindakan radikal maupun teror.

“Saya tidak melihat mahasiswa suka terorisme,” kata Al Chaidar saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon, Rabu (30/5).

Jika memang ada percikan radikalisme yang berkembang di lingkungan kampus, hal itu pun kata dia hanya sebagai bentuk radikalisme biasa, dalam arti pola pikir kritis khas mahasiswa.

Misalnya kata dia, paham kekhilafahan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang banyak dianut mahasiswa, tentu tak akan berujung pada aksi terorisme.

“Misalnya di IPB itu banyak mahasiswa yang dulu ikut mendukung ide khilafah gaya HTI, tapi mereka tetap anti terorisme. Radikalisme di kalangan mahasiswa itu hanya sekadar fanatisme,” lanjutnya.

Dia pun mengaku sangat terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan oleh BNPT tersebut. Dari pernyataan itu seolah kata dia, kampus-kampus di Indonesia sudah sangat darurat terorisme.

Dia pun ‘menantang’ BNPT untuk menggelonotorkan temuannya tersebut secara rinci.

“Rinci dong, penelitiannya bagaimana, berapa temuannya, pakai metode apa mereka menelitinya. Wong setahu saya sangat sedikit mahasiswa yang terlibat terorisme, hanya delapan orang saja dari seluruh Indonesia,” katanya.

Sebelumnya Direktur Pencegahan BNPT, Hamli mengatakan hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar paham radikalisme.

“PTN itu menurut saya sudah hampir kena semua (paham radikalisme), dari Jakarta ke Jawa Timur itu sudah hampir kena semua, tapi tebal-tipisnya bervariasi,” kata Hamli dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (25/5) lalu.

Dia membeberkan Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) sudah disusupi paham radikal.

Hamli menjelaskan pola penyebaran paham radikalisme yang berkembang di lingkungan lembaga pendidikan saat ini sudah berubah. Awalnya penyebaran paham tersebut dilakukan di lingkungan pesantren. Namun saat ini, kampus negeri maupun swasta menjadi sasaran baru dan empuk bagi penyebar radikalisme.

“PTN dan PTS yang banyak kena itu di fakultas eksakta dan kedokteran,” ungkap Hamli. (mb/cnn indonesia)

Related posts