KOTAMOBAGU, METROBATAM.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu terus memperkuat upaya menciptakan iklim investasi yang aman, berkelanjutan, dan tangguh terhadap bencana. Langkah ini dinilai penting seiring meningkatnya aktivitas investasi di Kotamobagu yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan perdagangan di wilayah Bolaang Mongondow Raya.
Berdasarkan data Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) serta laporan penanaman modal hingga triwulan III 2026, akumulasi nilai investasi di Kota Kotamobagu tercatat mencapai Rp544.573.917.959 atau sekitar Rp544,57 miliar.
Di tengah pertumbuhan investasi dan pembangunan permukiman tersebut, aspek keselamatan menjadi perhatian penting. Kondisi geologis Kotamobagu yang memiliki potensi risiko gempa bumi mendorong perlunya sistem perizinan yang terintegrasi dengan informasi kerawanan bencana.
Menjawab tantangan itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kotamobagu, Asriyanti, S.T., M.M., menggagas sebuah proyek perubahan bertajuk I-MAPALUS (Investasi Mitigasi Berbasis Peta Lokasi Untuk Keselamatan).
Inovasi tersebut disosialisasikan dalam kegiatan yang berlangsung di Cafe Six Coffee, Kelurahan Motoboi Kecil, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Senin (19/10/2026). Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan dan kalangan investor, di antaranya dr. Sartika Pratiwi.
Dalam pemaparannya, Asriyanti menegaskan bahwa informasi mengenai wilayah rawan bencana, khususnya gempa bumi, perlu menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum investor menentukan lokasi pembangunan usaha.
Menurutnya, integrasi peta kerawanan bencana dalam proses perizinan dapat membantu pelaku usaha memahami risiko sejak tahap perencanaan. Dengan demikian, keputusan investasi dapat dilakukan secara lebih terukur dan potensi kerugian akibat bencana bisa ditekan.
“Peta yang ada di peta bencana, satu gempa bumi yang kita ambil, gempa ini penting sekali buat investasi. Jangan nanti investor sudah terlanjur membangun ternyata di situ rawan gempa, gempa tinggi,” ujar Asriyanti.
Melalui I-MAPALUS, Pemkot Kotamobagu mengusung tagline “Kenali Lokasi, Mitigasi Risiko, Selamatkan Investasi” dengan visi “Investasi Tepat, Kotamobagu Selamat”.
Program ini diarahkan untuk menghubungkan data geospasial kebencanaan dengan sistem pelayanan perizinan, sehingga informasi mengenai tingkat kerawanan suatu lokasi dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.
Asriyanti menjelaskan, pendekatan mitigasi berbasis lokasi tersebut menjadi langkah strategis yang ingin dikembangkan di Kotamobagu. Ia menyebut, berdasarkan pemahamannya, penerapan serupa secara menyeluruh baru dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia.
“Di Indonesia baru dua daerah yang menjalankan itu, Jawa Timur dengan Bali. Kalau mereka semuanya, semua jenis usaha, jenis bencana mereka mitigasi. Kalau kita cuma gempa karena itu yang lebih jadi perhatian khusus,” jelasnya.
Selain risiko gempa bumi, Asriyanti turut menyoroti persoalan genangan air dan banjir yang kerap menjadi perhatian masyarakat di kawasan perkotaan.
Menurutnya, sejumlah kejadian genangan perlu ditangani melalui perbaikan sistem drainase dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, termasuk tidak membuang sampah sembarangan.
“Kalau banjir tidak apa-apa, longsor ndak terlalu bagaimana. Banjir bukan sebenarnya banjir, cuma luapan karena drainase yang mampet masyarakat tidak disiplin buang sampah. Nah intinya itu, tapi nanti baiknya kita share biar lebih jelas di pemerintahan. Ini wajib bagi kita untuk mensosialisasikan,” tambahnya.
Tiga Tahapan Pengembangan I-MAPALUS
Dalam rancangan proyek perubahannya, I-MAPALUS disiapkan untuk menjawab sejumlah tantangan, mulai dari belum terintegrasinya data kebencanaan dengan informasi investasi, terbatasnya analisis risiko hingga tingkat bidang tanah atau persil, hingga perlunya memperkuat koordinasi antarperangkat daerah.
Pelaksanaannya dirancang melalui tiga tahapan utama.
Pada jangka pendek selama 60 hari kalender, kegiatan difokuskan pada pembentukan tim efektif, analisis kondisi organisasi menggunakan metode SWOT, inventarisasi data investasi bersama DPMPTSP, serta koordinasi dengan BMKG dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Tahap ini juga mencakup identifikasi peta kerawanan gempa bumi, integrasi data awal, dan uji coba prototipe dasbor perizinan berbasis risiko.
Selanjutnya, pada jangka menengah, program diarahkan pada penerapan kebijakan investasi tangguh bencana atau Disaster-Resilient Investment Policy. Upaya ini meliputi penyusunan pedoman investasi aman berbasis risiko, penguatan kompetensi aparatur yang melakukan penilaian investasi, serta edukasi kepada para investor mengenai pentingnya mitigasi bencana.
Sementara pada jangka panjang, I-MAPALUS ditargetkan berkembang menjadi layanan informasi digital interaktif berbasis data waktu nyata atau real-time. Sistem tersebut direncanakan terintegrasi dengan portal perizinan daerah dan dilengkapi mekanisme pemantauan serta evaluasi secara berkelanjutan untuk mendukung kepatuhan terhadap standar mitigasi.
Untuk merealisasikan program tersebut, BPBD Kotamobagu mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya DPMPTSP, Bappeda, Dinas PUPR, BMKG, Badan Geologi, serta asosiasi pengusaha.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat pertukaran data dan koordinasi dalam memastikan aspek keselamatan menjadi bagian dari perencanaan pembangunan dan investasi.
Melalui I-MAPALUS, Pemkot Kotamobagu tidak hanya berupaya mengurangi potensi kerugian aset dan dampak ekonomi akibat bencana, tetapi juga membangun kepercayaan investor dalam jangka panjang.
Kehadiran investor, termasuk dr. Sartika Pratiwi dalam sosialisasi tersebut, menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antara pemerintah dan dunia usaha.
Dengan perencanaan yang mempertimbangkan risiko bencana sejak awal, Kotamobagu diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang lebih aman sekaligus mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.














