Metrobatam.com, Lingga – Sejumlah kios penjual bahan bakar minyak (BBM) eceran di wilayah Kabupaten Lingga mendadak tutup secara bersamaan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memicu tanda tanya sekaligus keresahan di tengah masyarakat, terutama bagi pengguna kendaraan roda dua dan roda empat yang sangat bergantung pada ketersediaan BBM jenis Pertalite.
Penutupan kios-kios tersebut disebut dilakukan secara serentak dengan alasan stok Pertalite telah habis. Namun di sisi lain, warga justru menemukan adanya pihak-pihak tertentu yang tidak memiliki kios resmi diduga masih menyimpan BBM jenis Pertalite dalam jumlah tertentu dan menjualnya secara sembunyi-sembunyi.
Situasi ini menimbulkan kecurigaan publik terhadap kemungkinan adanya praktik penimbunan maupun permainan distribusi oleh oknum tertentu. Warga pun mendesak aparat penegak hukum (APH) segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak (sidak) secara menyeluruh terhadap seluruh penjual BBM di wilayah Lingga.
“Sangat aneh. Yang punya kios tiba-tiba kompak tutup dengan alasan Pertalite habis. Tapi justru ada orang yang tidak punya kios malah memiliki stok BBM jenis Pertalite,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Kamis (2/4/2026).
Menurut warga, kelangkaan yang terjadi secara serentak memperkuat dugaan adanya ketidakwajaran dalam rantai distribusi BBM. Padahal, kebutuhan terhadap Pertalite di Lingga tergolong tinggi, tidak hanya bagi masyarakat umum, tetapi juga nelayan dan pelaku usaha kecil yang menggantungkan aktivitasnya pada ketersediaan bahan bakar.
Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu gejolak sosial apabila tidak segera ditangani. Masyarakat menilai, jika benar terjadi penimbunan atau distribusi ilegal, maka tindakan tegas harus segera diambil demi menjaga stabilitas dan keadilan di tengah masyarakat.
Warga juga meminta agar sidak tidak hanya menyasar kios eceran, tetapi turut menelusuri jalur distribusi, gudang penyimpanan, hingga pihak-pihak yang diduga menjual BBM secara ilegal. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi demi meraup keuntungan pribadi.
Selain itu, masyarakat mendesak pemerintah daerah bersama instansi terkait untuk memberikan penjelasan terbuka mengenai kondisi pasokan BBM di Kabupaten Lingga. Transparansi informasi dinilai menjadi kunci untuk meredam spekulasi dan menjaga kepercayaan publik.
“Kalau memang stok habis, harus dijelaskan secara terbuka. Tapi kalau ada dugaan penimbunan atau permainan, harus segera ditindak. Jangan sampai masyarakat dirugikan dan terjadi konflik,” tegas warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum maupun instansi terkait mengenai penyebab pasti tutupnya sejumlah kios BBM tersebut. Masyarakat berharap sidak dapat segera dilakukan agar persoalan tidak semakin meluas serta situasi tetap kondusif di wilayah Kabupaten Lingga.
Awalludin.













