LINGGA, Metrobatam.com – Anggaran boleh diefisiensi, tapi semangat nasionalisme tak bisa dipangkas. Itulah yang terlihat di Lapangan Merdeka, Desa Penuba, Kecamatan Selayar, Kabupaten Lingga, Senin (10/8/2026).
Di bawah terik matahari yang menyengat pagi dan sore, tujuh siswa-siswi SMA Selayar tetap tegak, berkeringat, dan kompak. Mereka adalah calon Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kecamatan Selayar yang akan mengemban tugas sakral pada Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Jumlahnya memang tak banyak, hanya tujuh orang. Namun kesungguhan mereka jauh melebihi angka. Tanpa fasilitas mewah, latihan tetap berjalan intensif.
Di lapangan, mereka ditempa langsung oleh Kapolsubsektor Polsek Daik Lingga, Aiptu Andi Saputra bersama Bhabinkamtibmas. Bukan sekadar baris-berbaris, yang diajarkan adalah disiplin, ketepatan gerakan, kekompakan, hingga mental tanggung jawab sebagai pengibar Sang Merah Putih.
“Yang paling penting adalah semangat, kedisiplinan dan rasa tanggung jawab. Walaupun dalam kondisi keterbatasan, anak-anak tetap kita latih dengan maksimal agar mereka siap melaksanakan tugas sebagai pengibar bendera pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia,” tegas Aiptu Andi Saputra.
Bagi Andi, Paskibra bukan sekadar pasukan upacara. Ini adalah kawah candradimuka pembentukan karakter generasi muda.
Semangat itu pun mendapat apresiasi penuh dari Camat Selayar, H. Abdul Kamar. Ia menilai, apa yang dilakukan para pelatih dan 7 pelajar ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada para pahlawan.
“Kami sangat mengapresiasi semangat anak-anak dan para pelatih. Di tengah keterbatasan yang ada, persiapan upacara tetap harus berjalan. Ini merupakan bentuk penghormatan kita terhadap perjuangan para pahlawan sekaligus menanamkan semangat nasionalisme kepada generasi muda,” ujar H. Abdul Kamar.
Ia menegaskan, 17 Agustus bukan sekadar seremoni tahunan. Ini momentum untuk memperkuat persatuan, terutama di pulau terluar seperti Selayar.
Latihan akan terus digeber hingga menjelang detik-detik proklamasi 17 Agustus. Fisik, mental, dan kekompakan terus ditempa.
Dari lapangan sederhana di Desa Penuba, tujuh anak muda itu membuktikan satu hal: keterbatasan anggaran bisa membatasi fasilitas, tapi tidak akan pernah bisa membatasi cinta pada Tanah Air.
Penulis: Awalludin














