Jenazah Korban Gempa Mulai Membusuk, Menkes Ingatkan Ancaman Infeksi

Metrobatam, Jakarta – Gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah menelan lebih dari 800 korban jiwa. Memasuki hari ketiga, Menteri Kesehatan mengingatkan risiko infeksi akibat pembusukan jenazah yang mulai terjadi.

“Jenazah-jenazah itu dikumpulkan di RS. Dalam hal ini kami minta agar cepat dikuburkan massal dengan maksud agar (pasien) tidak tercemar penyakit yang bisa menyebabkan infeksi,” kata Menkes nila F Moeloek ditemui usai Apel Siaga Persiapan Asian Para Games 2018, Senin (2/10).

Read More

Dijelaskan oleh Kepala Pusah Krisis Kesehatan Kemenkes RI, dr Achmad Yurianto, pembusukan jenazah dimulai pada satu jam pertama sejak kematian. Otak dan saluran pencernaan mengalami pembusukan paling cepat dan menciptakan gas sehingga jenazah menggembung.

“Pembusukan yang cepat ini yang kita khawatikan. Selain itu, cairan pembusukan jenazah ini bisa mengalir ke mana-mana. Ini sangat berbahaya bagi pasien lain, oleh karena itu seharusnya dimakamkan,” kata dr Yuri.

“Pembusukan jenazah bisa menjadi lebih berbahaya pada korban yang mengalami luka terbuka,” lanjutnya.

Penguburan massal dilakukan setelah lebih dahulu dilakukan identifkasi oleh kepolisian. Jika tidak ditemukan tanda pengenal, jenazah akan difoto kemudian dilabeli. Foto digunakan apabila di kemudian hari ada kerabat yang mengenalinya.

Sementara Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyampaikan, ratusan jenazah korban gempa dan tsunami di Kota Palu serta Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah telah dimakamkan secara massal pada hari Senin.

“Hari ini akan memakamkan jenazah secara massal, sebagian besar sudah mulai membusuk, apabila tidak segera dimakamkan akan menimbulkan penyakit,” kata Dedi saat kepada Okezone, Senin (1/10).

Dedi tidak merinci jumlah total jenazah yang akan dimakamkan pada hari ini, jenazah yang akan dimakamkan itu adalah korban yang sudah berhasil diidentifikasi, sebagian jenazah juga ada yang telah dipulangkan kepada pihak keluarga.

Polisi dan TNI masih terus berupaya mencari korban yang masih tertimbun reruntuhan untuk dilakukan identifikasi. Polisi menduga masih ada korban meninggal maupun luka-luka yang belum teridentifikasi.

“Proses identifikasi jenazah terus dilakukan. semua Satgas masih bekerja, utamanya mengevakuasi korban yang masih hidup maupun korban yang sudah meninggal dunia,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan Okezone, gempa bumi berkekuatan 7,4 SR mengguncang Kota Palu dan sekitarnya pada Jumat 28 September kemarin. Gempa itu menimbulkan tsunami di pesisir Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Akibat peristiwa tersebut, korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 832 orang, dengan rincian di Kota Palu 821 orang dan 11 orang di Kabupaten Donggala. Kemudian yang mengalami luka berat sebanyak 540 orang dan 16,732 orang mengungsi. (mb/detik/okezone)

Related posts