Tito Karnavian Saran Simulasi Dulu Sebelum Tempat Wisata dan Sekolah Dibuka

Metrobatam.com, Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengusulkan, kepada pemerintah daerah yang akan memulai membuka tempat pariwisata maupun pusat perbelanjaan di era pandemi COVID-19, untuk diawali dengan simulasi lebih dulu.

Terutama, kata Tito, dalam penerapan protap COVID-19 sehingga bisa dijadikan role model. Menurutnya, metode simulasi sangat penting. Karena situasi dan kondisi setiap tempat sangat berbeda sehingga dibutuhkan peninjauan yang lebih lanjut oleh gugus tugas daerah masing-masing.

Read More

“Setelah itu tiap-tiap daerah menggarap dulu satu atau dua model. Nah itu mereka berlakukan 2 sampai 3 minggu, kalau bagus jalannya dan kemudian tidak ada klaster baru, kemudian baru bertambah lagi direplikasi oleh hotel restauran lainnya,” kata Tito melalui keterangan tertulis, Selasa, 4 Agustus 2020.

Mantan Kapolri ini menjelaskan, dalam konteks new normal, ada 7 sektor kehidupan yang akan digarap dari Kemendagri. Beberapa di antaranya yaitu pasar, transportasi publik, hotel, mal, restoran dan sekolah.

Sosialisasi penerapan protokol, menurut Tito, tidak cukup hanya berupa tulisan imbauan saja. Tapi lebih bagus jika nanti petunjuk berupa video yang dapat dijadikan sebagai patokan dasar untuk penerapan protokol kesehatan.

“Kita juga membuat video tentang protokol kita harus menggarap mal, menggarap pasar, dan setelah itu baru model ini protokol ini disampaikan kepada hotel, restoran dan lain-lain,” ujarnya.

Khusus untuk sekolah-sekolah, pembuatan videonya juga harus berbeda. Misalkan, sekolah agama seperti pesantren, SMP/SMA Madrasah, atau sekolah yang sistem asrama (Akpol/AAL/AAU/IPDN) video penerapannya mesti sesuai.

“Video protokol yang berbeda-beda karena ini banyak sekali perbedaannya, ada sekolah yang dia seperti biasa masuk kemudian setelah itu kembali siswanya,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Ada juga sekolah yang berasrama ini yang paling rawan karena sekali kena akan kena semua, tempat tidurnya, makanannya sama-sama. Kemudian termasuk sekolah-sekolah agama seperti pesantren, ini protokolnya harus beda-beda.”

Atas dasar itu, menurutnya, pemeriksaan secara regular 2 minggu dengan PCR atau rapid test menjadi hal yang dianjurkan olehnya, untuk mencegah terjadinya penyebaran COVID-19.

“Guru-guru yang masuk sebelumnya mereka rapid baru mengajar, kemudian pemeriksaan secara reguler per-2 minggu dengan PCR atau rapid sebanyak 2 kali,” katanya.

(viva.co.id)

Related posts