Kasus Impor Tekstil, Kejaksaan Agung Tahan 3 Pejabat Bea Cukai Batam

Tersangka Kasus Impor Tekstil (Wilda/detikcom)

Metrobatam.com, Jakarta – Kejaksaan Agung pada Rabu (24/6/2020) menahan tiga pejabat aktif Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Batam yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi impor tekstil pada 2018-2020.

Ketiganya adalah Kepala Seksi PPC III KPU Bea dan Cukai Batam Dedi Aldrian, Kepala Seksi Pabean dan Cukai I pada KPU Bea Cukai Batam Hariyono Adi Wibowo, dan Kamarudin Siregar selaku Kepala Seksi Pelayanan Pabean dan Cukai (PPC) II Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Batam.

Read More

“Dari 5 orang tersangka tadi, maka 3 orang saksi yang statusnya meningkat jadi tersangka, pada malam hari ini langsung dilakukan penahanan,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Hari Setiyono kepada wartawan, Rabu (24/6) malam.

Para tersangka keluar dari pemeriksaan penyidik sekitar pukul 21.30 WIB. Mereka sudah mengenakan rompi berwarna pink dan digiring menuju mobil tahanan.

Hari menjelaskan para tersangka akan menjalani masa penahanannya selama 20 hari ke depan, hingga 13 Juli. Para tersangka akan ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung.

“[Disangkakan] Pasal 2, Pasal 3 Undang-Undang tipikor. Tentu tidak menutup kemungkinan ada pengembangannya nanti,” pungkas Hari.

Baca Juga: Kejaksaan Agung Tetapkan 4 Pejabat Bea Cukai Batam Jadi Tersangka Kasus Impor Tekstil

Sementara itu, Hari menerangkan tersangka lain berinisial IR yang berasal dari pihak swasta telah ditahan oleh penyidik Bea dan Cukai. Selain itu, tersangka lain berinisial MM masih diperiksa oleh penyidik di rumahnya di Sidoarjo lantaran hasil test Covid-19 menunjukkan reaktif.

Kejagung sebelumnya sudah menetapkan lima tersangka dalam perkara ini. Para tersangka itu adalah Kepala Bidang Pelayanan Fasilitas Kepabeanan dan KPU Bea dan Cukai Batam berinisial MM, Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai Ditjen Bea Cukai Batam berinisial DA, HAW, KA, serta pemilik PT Flemings Indo Batam dan PT Grmindo Prima berinisial IR.

Pada saat itu, didapati ketidaksesuaian mengenai jumlah dan jenis barang antara dokumen PPFTZ-01 Keluar dengan isi muatan usai dilakukan pemeriksaan fisik barang oleh Bidang Penindakan dan Penyidikan KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok.Dugaan tindak pidana korupsi dalam proses import tekstil tersebut berawal dari upaya penegahan yang dilakukan oleh Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok yang mendapati 27 kontainer milik PT Flemings Indo Batam (FIB) dan PT Peter Garmindo Prima (PGP) pada 2 Maret 2020 lalu.

Pada dokumen pengiriman disebutkan kain tersebut berasal dari Shanti Park, Myra Road, India dan kapal pengangkut berangkat dari Pelabuhan Nhava Sheva di Timur Mumbai, India. Namun faktanya kapal pengangkut tersebut tidak pernah singgah di India dan kain-kain tersebut ternyata berasal dari China.

Belum diketahui jumlah kerugian negara yang terjadi akibat tindak korupsi ini. Hari menerangkan, selama penyelidikan ditemukan bahwa ada sekitar 556 kontainer yang tidak memenuhi persyaratan.

(cnnindonesia)

Related posts