METROBATAM.COM, NATUNA – Jembatan Alternatif Proyek Rehabilitasi Fasilitas Pelabuhan Laut Midai dari Kementerian Perhubungan, Direktorat Jendral Perhubungan Laut, Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Tarempa Ambruk Sebelum Digunakan.
Rehabilitasi fasilitas pelabuhan laut di Pulau Midai ini dimenangkan oleh PT. Pilar Atmoko Nusantara- KSO dengan Konsultan pengawas dari PT. Tatabumi Konsultan. Kegiatan ini menggunakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2024 dengan nilai kontrak Rp 43.317.000.000 dengan waktu pelaksanaan 285 hari kalender.
Karena lokasi pengerjaan proyek berada di jalur yang sama dengan pelabuhan perintis, maka sesuai rapat bersama pihak Kecamatan Midai dan Suak Midai, disepakati untuk membuat jembatan alternatif, bagi masyarakat untuk melintas dan beraktivitas di pelabuhan jika ada Kapal masuk. Tujuannya agar pengerjaan proyek berjalan lancar dan tidak terganggu akan segala aktivitas di pelabuhan.
Dalam pantauan awak media ini pada Sabtu siang, (22/6) jembatan alternatif itu roboh/ambruk sebelum digunakan. Kuat dugaan kontraktor nya membuat jembatan alternatif ini asal jadi, sehingga tidak mempunyai kualitas dan ketahanan yang kuat.

Ketua Pemuda Mandiri Midai Fahrullazi yang akrab disapa Yoi, saat di temui awak media ini mengatakan, seharusnya pihak kontraktor membuat jembatan alternatif itu, juga memperhitungkan akan kondisi alam atau cuaca di wilayah Midai, supaya jembatan yang dibangun itu kuat, mempunyai ketahanan dan kekuatan.
“Memang pada hari itu angin kencang dan ongbak air laut juga tinggi, mengakibatkan jembatan sepanjang 100 meter itu roboh semua. Seandainya roboh disaat ada aktivitas masyarakat, tentu ini sangat membahayakan bagi keselamatan masyarakat yang melintas. Harapan saya sebagai masyarakat Midai harus di buat betul-betul lah jembatan alternatif itu, karena digunakan nanti cukup lama juga sampai 3-4 bulan kan, sampai selesai pengerjaan pelabuhan itu,” ucap Yoi kepada Metrobatam.com Minggu, (23/6).

Lanjut Yoi mengatakan, jika seandainya nanti tidak memungkinkan untuk membuat jembatan alternatif, maka pihak kontraktor harus ada pertimbangan untuk masyarakat Midai, jika ada kapal barang atau penumpang, tentu akan menggunakan pompong dan itu masyarakat harus mengeluarkan biaya.
“Jika tak memungkinkan untuk membuat jembatan alternatif untuk akses masyarakat yang beraktivitas di pelabuhan, harus ada pengertian dari kontraktor. Kalau Kapal-kapal masuk tentu tak bisa sandar, dan harus menggunakan pompong untuk turun naik penumpang maupun barang. Maka harapan saya kepada kontraktor pelaksana, harus membantu meringankan beban masyarakat. Karena kita tau, jika kapal tidak sandar, para penumpang harus mengeluarkan biaya 30 ribu per orang untuk sampai ke kapal, menggunakan pompong (Motor Laut) ” jelas Yoi.
Fajar selaku pihak kontraktor dari PT. Pilar Atmoko Nusantara-KSO saat di mintai keterangan oleh awak media ini dengan santai mengatakan, “jembatan alternatif yang roboh itu, kalau dibangun kembali kayaknya sudah tidak mungkin lagi, karena cuaca tidak bisa diprediksi,” ucapnya kepada Metrobatam.com, Senin (24/6) melalui pesan singkat Whatsapp. (Rdp)














