Metrobatam.com, Langgur, – Bentrok antar dua kelompok pemuda di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) Provinsi Maluku yang terjadi pada hari Minggu (16/3/2025) dini hari, meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga korban.
Diketahui, akibat konflik itu, sebanyak 16 orang yang menjadi korban. Dari warga sipil tercatat 7 orang (2 diantaranya meninggal dunia yakni Natan Kudubun dan Dirly Russel). Sementara korban dari anggota kepolisian (Polres Malra) sebanyak 9 orang.
Kini, dua belas hari telah berlalu sejak peristiwa naas yang menewaskan Natan Kudubun (23) dan Dirly Russel (15).
Kepada wartawan, orang tua dari kedua korban pun mengungkapkan keresahan dan kekecewaan mereka atas kinerja pihak kepolisian (Polres Malra).
Kekecewaan mereka tersebut bukan tanpa alasan. Hingga kini, belum satupun pelaku penembakan yang mengakibatkan meninggalnya anak-anak mereka ditangkap.
“Saya harap pemerintah daerah dan aparat kepolisian segera mengambil tindakan untuk melakukan penyelesaian konflik ini,” ujar Septinus Russel (ayah dari almarhum Dirly).
Hal senada juga disampaikan ibunda Dirly.
“Paling (sangat) sakit sekaliee. Sebagai ibu, saya minta dari pihak kepolisian Polres Malra maupun dari Polda Maluku tolong segera menangani kasus ini dan menangkap pelaku utk diadili sesuai dengan undang-undang yang berlaku di negara ini,” tambah ibunda Dirly sambil menangis.
Sementara itu, Wehelmina Marta Kudubun, ibu dari korban almarhum Nathan Kudubun, juga menyampaikan kesedihan dan kekecewaannya.
Perempuan paruh baya yang tak henti-hentinya menangis saat diwawancarai wartawan itu mengungkapkan kesedihannya.
“Saya sangat resah bercampur sakit di hati ini. Saya minta kepada pihak kepolisian atau pihak lainnya agar segera menyelesaikan masalah ini. Tangkap pelaku penembakan baru kami orang tua rasa senang atau lega,” katanya.
Ia pun meminta Kapolda Maluku agar serius dalam menangani peristiwa yang menewaskan puteranya itu.
“Tolong Pak Kapolda untuk serius perhatikan masalah ini. Tolong tangkap pelaku. Kalau tidak selesaikan barang (masalah) ini akan makan korban. Jadi selesaikan cepat supaya katong (kami) orang tua bisa puas. Kasihan, kami selaku orang tua sangat merasa rasa sakit. Jadi tolong pak Kapolres selesaikan masalah ini cepat. Kita punya anak itu bukan binatang yang ditembak dengan senjata tabung,” kata Marta sambil menangis.
Permintaannya kepada Kapolda Maluku itu tidak main-main.
Selaku seorang ibu, ia berharap pihak kepolisian dalam hal ini Kapolres Malra dan Kapolda Maluku agar bertindak cepat menangani dan menyelesaikan persoalan.
“Kalau pelaku tidak ditangkap, saya selaku orang tua tidak merasa damai. Jadi tolong kepada pihak kepolisian agar pelaku harus ditangkap. Jika polisi lambat tangkap pelaku, itu ada teman-temannya yang ikut dalam perkelahian waktu itu tolong tangkap salah satu, supaya semua bisa terungkap,” tandas Marta.














