METROBATAM.COM, JAKARTA – Pakar Ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Tadjuddin Noer Effendi, menyoroti maraknya kasus penipuan kerja yang menimpa warga negara Indonesia (WNI) di Myanmar, Thailand, dan Kamboja.
Ia meminta pemerintah memperkuat pengawasan hingga ke tingkat kepala desa untuk mencegah semakin banyaknya korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
“Calo-calo ini datang langsung ke rumah warga, menawarkan pekerjaan dengan iming-iming gaji besar. Mereka menyasar keluarga miskin dan minim informasi,” ujarnya dalam wawancara, Sabtu (19/4/2025).
Tadjuddin menjelaskan bahwa pengawasan di tingkat akar rumput menjadi krusial karena banyak korban direkrut secara diam-diam. Para calo sering memberikan uang muka kepada keluarga sebagai bentuk bujukan agar anak muda bersedia diberangkatkan kerja ke luar negeri secara ilegal.
“Kalau pemerintah daerah dan aparat desa tidak dilibatkan aktif, maka calo akan terus bergerak bebas,” ujarnya. Ia menekankan perlunya pendekatan langsung dari aparatur desa untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya kerja ilegal di luar negeri.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk mencegah masyarakat tertipu, terutama di daerah terpencil yang minim akses informasi. Tadjuddin juga menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat di pintu-pintu keluar ilegal seperti pelabuhan kecil dan perbatasan darat.
“Pemerintah harus aktif, bukan hanya di pusat, tapi sampai ke RT, RW, dan desa. Ini satu-satunya cara agar warga tidak lagi jatuh menjadi korban perdagangan orang,” ujarnya menegaskan.
Ia berharap koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, hingga tingkat desa dapat berjalan lebih efektif demi mencegah kasus serupa di masa depan. Dengan langkah tegas dan pengawasan menyeluruh, TPPO diharapkan dapat diminimalkan. (RRI)














