Mulai Akhir 2020, China akan Larang Penggunaan Sedotan Sampai Pengorek Telinga

Ilustrasi sampah plastik. ©2019 Merdeka.com/Pixabay

Metrobatam.com, Beijing – China, penghasil limbah plastik terbesar di dunia kini siap memulai rencana lima tahun untuk mengurangi limbah plastik. Program ambisius dengan implikasi luas pada pasokan negara, sambil menciptakan miliaran dolar yang menjadi peluang bisnis baru.

Seperti dikutip dari laman South China Morning Post, Sabtu (12/9), pada akhir tahun larangan akan diberlakukan pada produksi dan penjualan peralatan makan plastik atau styrofoam sekali pakai, sedotan, serta pengorek telinga.

Read More

Penggunaan kantong plastik non-biodegradable (tak bisa terurai) akan dilakukan secara bertahap mulai tahun ini, meluas ke seluruh negeri pada tahun 2025. Hotel harus berhenti membagikan produk plastik pembuangan gratis, sementara kurir diinstruksikan untuk berhenti menggunakan kemasan non-biodegrable.

Menurut Asosiasi Daur Ulang Sumber Daya Nasional China, dari 63 juta ton limbah plastik yang diproduksi China tahun lalu, 30 persen didaur ulang, 32 persen dibuang ke tempat pembuangan sampah, 31 persen dibakar dan 7 persen ditinggalkan.

“Dibandingkan dengan praktik di Eropa dan banyak negara lain, kerangka kebijakan baru ini adalah yang paling komprehensif di dunia, dan akan memberikan nilai referensi yang baik bagi negara lain,” jelas Zhao Kai, wakil ketua Asosiasi Ekonomi Sirkuler China (CACE), sebuah badan yang didukung negara untuk perumusan dan implementasi kebijakan konservasi sumber daya dan perlindungan lingkungan pemerintah. (merdeka)

 

Related posts